Organisasi dan Kepemimpinan

Krisis Kepemimpinan

sudah lama tidak menulis… khawatir sekali otak ini menjadi tidak kritis dan tumpul karena cuma membaca dan mendengar saja… berikut hasil wawancara saya dengan PemRed majalah kampus FTUI, TEKNIKA mengena krisis kepemimpinan. semoga bermanfaat…

B: boy

T: Teknika

b: maaf baru bales, kemarin lagi sibuk sekali…

T: assalamu’alaikum…mas boy..pa kabar niy?ni kurnia, mas boy..===
B: alhamdulillah, baek2. cuman merasa sedih aja, kemaren dijakarta terasa sebentar sekali, hehe.

T: mengenai kelanjutan pertanyaan yang waktu itu, menurut pendapat mas boy gimana? kira2 menurut mas boy, pada saat masa itu ternyata harus terjadi (krisis kader dan kepemimpinan):apa sih pendapat mas boy tentang terjadinya krisis itu?====
B: klo kita lihat realita hari ini, di Indonesia, di lapisan apapun memang sedang terjadi masalah tsb. lihat saja ribuan pejabat mulai dari lurah, bupati, camat atau gubernur yang memiliki kapabilitas baik, agak jarang kan… krisis kepemimpinan terjadi. klo kita spesifikan ke teknik ui, permasalahannya bukan kepada tidak ada mahasiswa yang memiliki kapabilitas yang baik, tapi karena kurangnya interest untuk ‘menerima’ amanah(jabatan). kurangnya interes ini bisa beraneka ragam alasannya, mulai dari rasa takut utk ‘berkorban’ (waktu, tenaga, uang, akademis dll), kurangnya kesadaran akan manfaat berorganisasi dan tereduksinya semangat kemahasiswaan dari organisasi yang penuh kreatifitas, kedinamisan, kebebasan dan tantangan menjadi organisasi yang membosankan, monoton, tumpul kreativitas, statis (hanya ngekor pendahulunya) dan takut menghindari tantangan atau bahkan menghilangkan tantangan2, padahal disinilah serunya berorganisasi. banyak masalah, banyak belajar banyak kesempatan/celah jadi orang lebih baik/pintar.

T: apa sih yang harus orang2 kecil or dilingkungan (seperti gw-gw ini lah) lakukan?===
B : hehe, klo ngomong orang kecil, emang kurnia kurang nambah berat badannya, hehe… dan boy ini emang orang besar, beratnya aja udah 74 kg, hehe.

KITA (bukan si kecil atau si besar saja), harus sadar bahwa dalam hidup ini, kita tidak bisa hidup sendiri. perlu bersosialisasi, banyak belajar, berlatih, mencoba menghadapi tantangan dan tidak lari dari tantangan, dan belajar dari setiap permasalahan hidup. organisasi/ ruang2 kepemimpinan adalah salah satu ‘laboratorium’ gratis utk melakukannya.

T: dan menurut sejarah dan pengalaman mas boy, krisis tersebut bisa dielesaikan dengan cara seperti apa?
===
B: krisis kepemimpinan bisa dilakukan dengan beberapa cara, yang pasti harus bertahap. arti bertahap, tiap periode kepemimpinan harus punya analisa thd kondisi masyarakat dan mengambil treatment khusus thd kondisi yang aktual tsb. jangan menggunakan ‘treatment kebiasaan/kultur’ untuk masyarakat yang sudah berubah. beberapa cara diantaranya:
1. menyadarkan akan ‘enaknya’ kemahasiswaan ataupun mengikuti organisasi dan memimpinnya. enaknya belajar berbicara, berdebat dan mempertahankan pendapat ketika rapat, mencari solusi, menghadapi masalah, menyelesaikan masalah dan mengambil pelajaran dari masalah2 tadi. klo banyak orang yang sadar akan betapa menantangnya di kemahasiswaan/kepemimpinan, saya pikir tidak ada keraguan sedikit pun bagi para ‘pembelajar’ untuk mencobanya. apalagi orang2 yang paham, bahwa setelah lulus nanti, mereka dihadapkan bukan hanya harus pandai dalam core-competence (akademis/kompetensi dasar) mereka, tapi juga dihadapkan kondisi lain, yaitu harus memiliki nilai tambah lainnya. hal ini juga tidak berarti, menonjolkan kemahasiswaan/kepemimpinan di atas dunia akademis di atas segala2nya, hehe.
2. melibatkan banyak orang untuk berkontribusi. permasalahan krisis salah satunya bukan hanya karena tidak mau, tapi karena tidak adanya pelibatan. nah, jika sudah terlibat, maka berikanlah training, tantangan (direction), kepercayaan (trust) bahwa ‘si dia’ mampu utk menyelesaikan masalah, motivasi, reward/semi-punishment dan penemanan (controll) selama bekerja agar merasa diperhatikan (tidak ditinggal).
3. ya bikin deh organisasi/suasana kemahasiswaan dan kepeminpinan yang menyenangkan (fun), dekat dengan masyarakat (mengakar), haha… iklan deh jadinya, sehingga tidak ada gap antara lembaga dan warga dan tidak ada resistensi orang non-lembaga kepada orang2 lembaga, karena akan ada paradigma bahwa lembaga adalah ‘kita-kita’ dan memang ini yang seharusnya terjadi.

T: ditunggu segera balasannya ya mas..==
B: maaf ya satu hari baru bales, hehe.

T: sebelumnya maaf banget ya mas boy, merepotkan banget niy..makasih banyak ya mas boy..
==
B: ah nggak ko, saya merasa senang sekali bisa ngeluarin uneg2 dari pengamatan saya dulu jadi mahasiswa.

T: syukron..doumo arigatou gozaimasu…==
B: kalo di korea, kamsahamida, hehe. atau kalo sesama teman, komawoyowassalamu’alaikum…

Advertisements

Discussion

2 thoughts on “Krisis Kepemimpinan

  1. Wow..Salam deh buat pengurus Teknika skr…semoga tetep semangat dan latihan menempuh krisis….eh Teknika masih krisis ya…

    Posted by Amrurazan | March 9, 2008, 6:48 pm
  2. insyaAllah disampaikan nanti salam mas adi…Teknika saat ini sudah mulai bangkit mas, dan sudah on the track menurut saya. munkin teknika butuh banyak komparasi lagi dengan media2 sejenis yang saat ini memang sangat kreatif dan produktif. itu saja…mungkin butuh juga kuliah khusus dari mantan ketua TEKNIKA seperti mas adhi yang jago nulis dan sering publish jurnal internasional, hehe…

    Posted by andimasboy | March 15, 2008, 11:50 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Advertisements
%d bloggers like this: