Artikel Bebas, Ekonomi dan Budaya, Organisasi dan Kepemimpinan

but the shows must go on…

but the show must go on…

Mungkin itu bahasa yang tepat, ketika masalah, keputusan atau sebuah event harus dilakukan walau dengan kondisi yang sangat minimalis. ya, semua harus dilakukan, ‘eksekusi’ harus dilaksanakan. walau kita tahu, bahwa apa-apa yang kita tampilkan bukanlah hasil terbaik dalam karya kita. Saya mengalami hal tersebut, dalam beberapa kondisi belakangan ini. Mungkin beberapa analisa berikut bisa menjadi pelajaran utk kita semua, termasuk saya kedepannya.

1. Manajemen waktu dan optimalisasi kerja.
Semua orang diberikan waktu yang sama oleh Allah swt, 24 jam sehari 7 hari seminggu, tidak lebih 1 menit dalam sehari, dan 1 hari dalam seminggu. Dalam range waktu yang sama, ternyata jumlah dan kualitas yang dihasilkan dari tiap individu bisa berbeda-beda. Ada satu orang yang dalam sehari hanya berkutat di depan komputer, dengan beberapa situs saja, dan hanya berputar-putar saja di situs tersebut. Lain hal, ada juga seorang tokoh, yang bisa mengoptimalkan waktunya, dari waktu sebelum subuh hingga waktu tidurnya, dengan beragam aktivitas, manfaat dan pembinaan yang ia sebarkan. Dari sini, kita bisa melakukan penilaian secara umum, bahwa ternyata, bukan masalah di waktu yang tersedia, tapi optimalisasi dari kerja yang kita lakukan.

2. Pembagian kerja dan kapabilitas personal
Pembagian kerja dan kapabilitas personal seharusnya menjadi sebuah konsideran yang penting dalam banyak hal, apalagi dalam kerja yang berhubungan dengan orang lain/klien. Dalam pembagian kerja (kita memberi pekerjaan), ada banyak hal yang harus menjadi aspek:
a. Pekerjaan harus sesuai dengan potensi dan kapabilitas seseorang
b. Pemberian arahan yang jelas dan bisa dimengerti oleh rekan kerja
c. Memberikan kepercayaan (trust) dan kesempatan dalam berkreasi.
d. Pengontrolan dan penemanan
e. evaluasi dan saran
untuk poin-poin di atas, insyaAllah akan saya coba paparkan di tulisan berikutnya.

Sedangkan untuk mengukur kapabilitas personal (diri kita sendiri), hal ini juga harus menjadi fokus utama. Jangan pernah menjual janji-janji manis atau menunda waktu pengerjaan. Ketika kita merasa mampu untuk melakukan 10 hal, jangan pernah menjanjikan untuk bisa melakukan 15 hal, tapi katakan yang kita bisa, kita bisa 10. Jika pekerjaan tersebut cukup beresiko, maka turunkanlah sedikit target anda, misal 8 dan katakan kepada klien, saya bisa melakukan 8, dan saya usahakan untuk bisa meraih 10. Hal ini lebih baik dan ‘aman’ untuk diri kita dan mitra kerja/klien kita. Menurunkan target dan memberikan harapan untuk berbuat lebih juga akan memberikan image bahwa kita bersungguh-sungguh akan apa yang sedang kita kerjakan. Apabila kita mencapai 10, maka klien akan puas dengan hasil kerja kita, apalagi kalau bisa melakukan hingga 12, mereka bisa tertawa riang, haha.


Dalam suatu kondisi, kadang hasil yang kita dapatkan tidak sebesar apa yang kita harapkan. Hal ini, pasti akan mengecewakan diri dan klien. Menurut saya, kegagalan tersebut tetap dapat ditoleril apabila kesalahan yang dilakukan bukanlah kesalahan prosedural, melainkan kesalahan teknis atau ada unsur ketidak sengajaan. Sebagai contoh, dalam melakukan suatu pekerjaan, membuat urutan kerja merupakan hal yang sangat penting, dan setelah dibuat, haruslah dijalankan secara disiplin, dan harus bertahap, tidak langsung lompat kepada kesimpulan. idelanya, langkah-langkah yang ada dilakukan secara berurutan, walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan akan ada yang dilewati, sampai poin ini (smeua dilakukan walau tidak urut), it’s fine. Hal yang salah, adalah ketika kita tahu ada langkah yang belom dilakukan, tapi kita menunda-nunda dan lalai/menyepelekan langlah yang dilewati, di sinilah, kesalahan yang tidak bisa ditolerril. Karena itu, hal yang paling penting dalam melakukan pekerjaan, kita bukan hanya harus memegang prinsip kerja keras, tapi juga yang cerdas (optimalisasi waktu kerja) dan sebisa mungkin ikhlas (semakin mudah berkreativitas).

3. Gladi bersih
Sebelum deadline menerjang, sebisa mungkin kita sudah men-set deadline versi kita sendiri. sehingga kita bisa melakukan simulasi/gladi bersih dari apa yang akak kita sajikan. Simulasi adalah kondisi yang paling tepat dalam men-develop suatu kondisi. Dengan simulasi, kita bisa melakukan berbagai macam uji, modifikasi, development, dan juga finishing touch yang mempercantik tampilan akhir dari produk yang akan kita tunjukkan kepada klien. Mengingat betapa pentingnya waktu untuk simulasi, maka yang harus ada di kepala kita adalah, jangan pernah men-set deadline rekan kerja/klien sebagai waktu terakhir bagi kita!

Keberhasilan, dalam suatu waktu mungkin menjadi kenangan indah di saat yang sama, tapi kegagalan bisa menjadi modal untuk membentuk kenangan indah, di kemudian hari. Ketika kegagalan menampilkan yang terbaik menjadi sebuah penyesalan, bisa jadi, hal tersebut akan menjadi modal yang berharga, bagi kemenangan dan kesuksesan di masa yang akan datang. Terus belajar, berbuat, belajar dan berkontribusi…

salam,
boy
02.15 am,
Gyeongsan.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Advertisements
%d bloggers like this: