Artikel Bebas, Indonesia, International, Organisasi dan Kepemimpinan

kenapa tidak jadi DJ lagi….

Seperti janji ditulisan sebelumnya, saya akan mencoba menulis mengenai kenapa keluar dari Radio PPI Dunia. Semoga tidak hanya menjadi ajang curhat, tapi bisa sebagai bahan renungan, inspirasi dan juga penyemangat untuk kita semua yang saat ini sedang beraktivitas di berbagai macam lini kehidupan.

Masih teringat di otak sebelah kiri saya, dengan laptop tua ini, dan di atas kasur yang sama, saya memulai aktivitas menjadi seorang DJ radio ppi dunia. Sekitar bulan April seingat saya. Saat itu, pendengar saya ada 3 orang, haha… siapa saja? satu Mas Ade Darwadi (kordinator Umum Radio PPI Dunia), Mas Hasbi yang mengecek kualitas siaran dan terakhir, saya sendiri, hihihi… walaupun begitu, saya tidak patah arang, semangaaattt euy. Maklum, menjadi DJ merupakan salah satu impian saya waktu SMA. Menjadi penyiar, terkesan pekerjaan yang sangat indah, bisa cuap2 ‘seenaknya’ dan juga dapet duit pula, hehehe…

Selang berapa waktu, terjadi pergantian kepengurusan. Pergantian ini membawa saya ke kursi Direktur Radio PPI Dunia. Posisi yang tak pernah ada di benak saya, bahkan hingga H-1 penetapan keputusan saya untuk maju ke babak selanjutnya. Hal yang unik, dari 5 calon bakal calon yang ada,,, saya adalah balon terakhir yang terlambat mengajukan surat permohonan mundur dari arena pencalonan… kalah cepet nih, hehe. Well, okelah, kita sikat amanah tersebut, bismillah, tanpa ada rasa keterpaksaan (semoga), saya beranikan diri untuk ngambil jabatan tersbut.

Awal kepengurusan, semua berjalan sesuai dengan rencana, tidak ada hambatan yang berarti (gak ada yang aneh2 deh, hehe). Keanehan mulai terjadi, dan ibarat Dunia Lain-nya Hari Pantja, mulai ada suara2 aneh yang keluar, ada bayangan2 menakutkan lewat, ada juga, godaan2 syaiton yang terkutuk, hihihi… tapi itu kan kalo di Dunia Lain yang merupakan reality show yang kalo si peserta gak kuat, tinggal menggerakkan2 tangannya sambil ngomong : “Mas, Masss… saya gak kuat” , hahaha. Tapi tidak di sini, the show must go on klo kata orang jawa bilang.

Permasalahan dan tantangan yang ada di radio, ternyata sangat menyita waktu dan energi saya. kalo anda bertanya seberapa besar waktu yang tersisa, lebih kurang saya hanya bisa bilang : sangat tersita. Secara kasat mata akan jam kerja, mungkin bisa dibilang, gak lebih dari beberapa jam saja lah sehari. Tapi yang paling berat adalah, beban pikiran,,, radio seperti apa sekarang, berapa pendengar, DJ sedang ngomong apa, bagaimana perkembangan radio, program kerja, keuangan, kordinasi antar bidang, DJ cuti, rekrut DJ baru, ada yang gak ngelakuin tugas dengan baik, ada yang sedang marahan, ada kerjaan mandeg, ada yang kecewa, ada yang butuh apresiasi, ada yang saling cinta, ada yang yang benci2an, ada yang, nyantai ajalah… ada juga yang gak mau ikut permasalahan (ini yg keren menurut saya, hehe), ada juga, yang gak mau ikut aturan (nah ini, ini yang bikin nambah keriting, hahaa). Pernah merasa ketakutan, khawatir dan juga deg2an ketika membuka email? saya merasakannya, hehe.

Ada beberapa orang yang saya pikir tidak jauh kondisi yang dirasakannya seperti saya. Orang2 ini, mungkin hanya bisa memendam aja perasaan yang ada. Orang2 ini, layaknya seperti semua orang kebanyakan : butuh apresiasi, butuh waktu untuk dirinya dan juga waktu untuk ‘dilayani’. Semoga mereka2 ini bisa terus sukses di manapun berada.

Nah… Di sinilah posisi ketika, anda akan bertanya : kenapa saya kehilangan rasa di awal saya di sini, kenapa harus melakukan ini semua, dan terjadi di dalam diri saya?. Dan pertanyaan itu mengharuskan saya untuk kembali menemukan, kenapa saya melakukan ini, I must find sumthin, the reason why I’m here… semangat itu, hilang. Walaupun begitu, seperti yang saya bilang di awal, ini bukanlah acara reality show yang dengan mudah2nya saya mengangkat tangan dan berkata : “Mas, Masss… saya gak kuat” hehehehe….

Di masa tengah sampai ujung masa kepengurusan di Manajemen (saat yang ‘asik’ lah pokoknya, hehe), saya menemukan banyak hal yang tidak akan saya lupakan dalam hidup saya. Ternyata, radio ini sangat sangat sangat banyak memberikan saya pembelajaran dalam hidup ini. Saya bersyukur, amat sangat bersyukur dengan setiap masalah yang saya hadapi. Teringat kata2 bijak dari seorang teman : Pelaut yang ulung bukanlah seorang pelaut yang dilahirkan dari danau yang tenang, namun seorang yang bisa keluar dengan selamat dari ombak yang ganas, angin yang kencang dan karang yang tajam. Saya harus bisa melewati semua permasalahan ini…Ternyata, di moment seperti itulah, saya menemukan arti persahabatan, belajar menanggapi kritikan pedas manis asem asin, mengatur kesabaran dan ritme bekerja, menemukan partner kerja yang se-ide, mengenal lebih dalam siapa diri saya, apa dan bagaimana kalau menjadi saya. alhamdulillah, diujung masa jabatan, saya masih bisa hidup, hehehehe… Dan ternyata, saya diingatkan kembali, kenapa saya berada di negeri ginseng ini. Prof memberikan saya sebuah ‘impossible’ project yang harus saya selesaikan beberapa bulan ke depan, dan di semester depan pula, saya diwajibkan untuk menyerahkan proposal disertasi saya (yang saya harap bisa dikerjakan lebih dari hanya sekedar proposal, namun semoga bisa rampung di atas 50% dari keseluruhan disertasi saya, amin). Dan pertanyaan apakah masih memungkinkan untuk beraktivitas di radio kembali muncul…

Setelah menimbang2,,, saya sampai kepada satu alasan kuat kenapa saya harus keluar (at least, keluar sementara lah). saya HARUS keluar. Harus keluar karena kecintaan saya kepada radio sangat sangat besar. rasa khwatir saya terhadap radio sangat tinggi, sejak awal bangun hingga tidur lagi. Rasa ingin tau, ada apa di radio saat ini, detik ini,,, sangat menggebu. Semangat untuk mempromosikan acara2, dan juga mengetahui kondisi DJ2 gak bisa dilepaskan secara singkat. Saya harus memilih, saya harus menentukan prioritas utama dan menceburkan diri saya ke salah satu kolam, tidak bisa berendam di keduanya… Walau tidak duduk lagi di manajemen, sense itu masih ada. dan solusi yang paling baik adalah, saya harus keluar. Melepaskan semua embel2 tentang radio, bersikap seharusnya : tidak memberikan atensi sebesar sebelumnya. Post power syndrome ? no matter what you say, but I know, I love this family more than you think.

Salah satu hal yang paling menyakitkan dalam hidup menurut saya adalah : berpisah ketika kita masih sangat sayang, namun kondisi memaksa kita untuk memilih pilihan tersebut. Saya harus memilih, dan saya tau mana yang menjadi prioritas. Permohonan saya hanya sederhana,,, seluruh rekan2 saya di radio bisa menghormati dan menghargai pilihan saya ini, that’s all.

-Ketika kesempatan yang kedua hadir di diri saya untuk kembali melakukan apa yang saya cintai,,, tak akan ragu dan malu diri ini melamar menjadi DJ Radio PPI Dunia.

salam,
1:49 AM
Gyeongsan

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Advertisements
%d bloggers like this: