Artikel Bebas, Ekonomi dan Budaya, Indonesia, My Thoughts, Organisasi dan Kepemimpinan, Sosial & Politik

Lomba Essay Hardiknas PERPIKA 2011

Pada hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2011 lalu, PERPIKA mengadakan acara lomba essai untuk para pelajar di Korea Selatan. Tertarik untuk ‘curhat’ di sebuah essai,,, akhirnya memutuskan utk ikutan deh, hehe. Tak disangka, tulisan (yg lebih mirip uneg2 ini tumpah, paaahhh, hahaha) memenangkan juara 1. Entah apa opini para Juri sehingga memenangkan essai ini. Lepas dari hal tersebut, saya lebih berharap (sejak menulis essay tersebut): isi, semangat, harapan dan keluh kesah selama ini bisa tersampaikan, dibaca dan dipahami, sehingga muncul kepeduliaan, visi dan gerak bersama serta saling mendukung (sinergisme)… bahwa ada ‘ladang’ aktivitas yang terbentang luas di sekitar kita, yang menunggu utk disemai dan diolah.

semoga,,, semoga bisa menginspirasi dan menyemangati.
(tulisan ini juga bisa diunduh bersama dengan majalah Saranghae edisi 5.)

salam,
boy

========================================

(re)Orientasi Peran Pelajar Indonesia di Korea Selatan

Oleh : Andy Tirta*

Pelajar hari ini, pemimpin masa depan…!

(anonym)

Dua ribu sebelas. Ya, kita sudah berada di tahun 2011. Tahun di mana Korea yang saat ini menampung sekitar lebih dari 300 orang para pelajar Indonesia, telah berhasil menjadi salah satu negara pengekspor kapal laut, teknologi layar datar (display) dan elektronik terbesar di dunia. Di saat yang bersamaan, Korea yang berpenduduk lima kali lebih sedikit dari Indonesia [1] telah menjadi Negara pengekspor ke-6 dunia, bandingkan dengan Indonesia yang berada di urutan ke 28 dari total volum perdagangan. Bukankah hal ini cukup menyita nalar kita? Dalam laporannya, Arthur Sweetman [2] menjabarkan dengan detail ternyata produktivitas sebuah Negara sangat terkait dengan system pendidikannya. Ada apa dengan pendidikan di Indonesia? Mungkin itu pertanyaan yang bisa dilontarkan.

Permasalahan pendidikan di Indonesia yang ada di masyarakat, bisa disebut layaknya fenomena gunung es. Masalah yang sebenernya ada, jauh lebih besar dari yang terpapar oleh media. Secara umum, menurut United Nations Development Programme (UNDP), sektor pendidikan di Indonesia menempati urutan 108 dari 169 negara terdaftar [3]. Sehingga, bukan hal yang mengherankan, jika tetralogi Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi menggambarkan sulitnya bagi warga di pelosok Indonesia untuk mendapat pendidikan yang mudah, murah dan berkualitas. Walau di saat yang bersamaan, bukan berita yang mengagetkan juga, sering terdengar para pelajar Indonesia menuai banyak prestasi di ajang internasional dan bergengsi. Premis awal bisa dikatakan, ada ketimpangan terhadap akses pendidikan yang cukup besar di Indonesia, antara di perkotaan dan daerah.

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada di pendidikan Indonesia dan sebagai bagian dari insan pendidikan yang saat ini sedang menimba ilmu di Korea, tentunya hal ini haruslah mengetuk hati kita untuk berbuat sesuatu. Karena ungkapan “lebih baik menyalakan sebuah lilin, daripada mengutuk kegelapan” sangatlah pas disematkan oleh para pejuang ilmu di manapun berada. Bukan porsi seorang pelajar untuk menjadi bagian dari para komentator yang dengan tangkas dan cekatan mengomentari kekisruhan pendidikan yang ada di Indonesia, mengapa? Karena para pelajar adalah aktor yang juga terlibat dalam permainan sepak bola besar, melawan kebodohan, kemandegan sistem serta segala hambatan dalam akses terhadap dunia pendidikan.

Semoga pemaparan dalam tulisan ini dapat menyemangati akan makna dan urgensi peran para pelajar Indonesia, khususnya di Korea Selatan. Dengan ladang kontribusi yang terbuka lebar, para pelajar Indonesia mampu melakukan sesuatu untuk kebaikan Indonesia, terutama di bidang pendidikan!

Pelajar sebagai aktor intelektual

Memiliki banyak jurnal internasional bahkan dengan impact factor yang tinggi atau prestasi-prestasi pribadi di setiap kampus di mana para pelajar Indonesia sebagai mahasiswa asing di Korea, tentunya menjadi kebanggan tersendiri bagi diri pribadi dan untuk Republik tercinta. Istilah ‘orang Indonesia itu’ akan tersemat dalam setiap sukses dan keberhasilan yang diperoleh, dan sebaliknya, akan juga tersemat apabila kegagalan dan kedangkalan karya terjadi. Setiap pelajar Indonesia di Korea sejatinya menjadi duta yang dipundaknya tersandang nama besar bangsa Indonesia. Sebagai seorang aktor intelektual, masih ada hal hebat tambahan yang bisa dilakukan. Misal membuat ‘pemancar’ ilmu pengetahuan dalam bentuk blog terhadap spesifikasi bidang masing-masing. Hal ini bukan hanya penting dalam mempromosikan diri dan bidang yang sedang ditekuni, namun juga memudahkan kerjasama dengan elemen lain terkait di Indonesia yang akan melakukan riset yang bersesuaian. Lain hal, bagi orang awam dan yang tidak mempelajari bidang tersebut secara mendalam, keberadaan media informasi yang menuliskan perkembangan riset tersebut dapat sangat bermanfaat dalam memperkaya khasanah keilmuan dan sumber informasi.

Mendidik adalah tugas setiap orang yang terdidik

Kalimat yang menampar mata hati kita tersebut datang dari seorang cendekiawan Indonesia, Anies Baswedan. Dengan programnya yang menginspirasi, Indonesia Mengajar (IM), sejatinya mengajarkan kepada kita semua, bahwa tanggung jawab memajukan pendidikan bukanlah tugas Negara/Pemerintah semata, namun melekat disetiap orang-orang terdidik, dalam hal ini, para pelajar di manapun berada. Di Korea sendiri, peran Universitas Terbuka di awal 2011 adalah sebuah tonggak sejarah yang dapat menjadi wadah para pelajar Indonesia dalam membagi ilmu dan pengalamannya kepada para rekan-rekan pekerja di seluruh Korea.

Kesempatan berkontribusi di dunia pendidikan sebenarnya tidak tertutup dengan menjadi Tutor pada Universitas Terbuka saja. Dalam perkembangannya, saat ini sudah hadir lebih dari 20 tempat para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) berkumpul[4], yang sebagian besar adalah Musholla/Mesjid yang membutuhkan Pembina, bukan hanya dari sisi spiritual tapi juga aspek pengetahuan umum seperti: wirausaha, bahasa inggris, komputer dan lain sebagainya. Di sini, peran pelajar amat sangat dibutuhkan, untuk berbagi atau sekedar memotivasi dan menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri para TKI di Korea Selatan.

Pelajar sebagai motivator dan penarik gerbong kemajuan

Berbicara mengenai kontribusi, berarti berbicara apa yang bisa pelajar lakukan. Ketika ada sekitar 30000 warga Indonesia yang menjadi para Tenaga Kerja Indonesia di Korea[5], sejatinya juga menjadi lahan basah para pelajar Indonesia di Korea untuk membagi ilmu pengetahuan yang dimilikanya. Bagaimana menggunakan bahasa Inggris atau bahasa Korea yang dipakai dalam percakapan sehari-hari? Bagaimana memasang aplikasi program pada komputer? Bagaimana cara memulai berwirausaha? Faktor kesehatan dan keselamatan apa yang diperlukan dalam pekerjaan yang dilakukan di pabrik-pabrik? Atau yang mungkin paling sederhana, bagaimana membuat sistem manajemen dalam organisasi atau perusahan kecil dan menengah, adalah pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa dijawab oleh para pelajar Indonesia di Korea. Membangun mentalitas dan kapasitas rekan-rekan pekerja Indonesia di Korea, adalah amal jariyah yang memberikan efek domino ketika mereka pulang nanti. Hilangnya interaksi pelajar dan pekerja selama di Korea, sama hal dengan hilangnya kesempatan untuk menyiapkan 30000 kader-kader yang akan membangun Indonesia, yang tersebar di provinsi-provinsi asal para TKI.

Pelajar sebagai elemen yang siap bersinergi dan berkontribusi

Belajar dari Korea pada awal 60an ketika negara ini menapak kembali setelah hancur oleh perang saudara, sinergisme adalah kunci sukses Indonesia masa yang akan datang. Sinergisme di internal para pelajar Indonesia serta dengan pihak luar seperti pemerintah dan industry amatlah dibutuhkan. Sulit membayangkan keberhasilan pendidikan di Indonesia tanpa adanya dukungan dari semua pihak. Saat ini, ranah untuh bersinergi di kalangan internasional seperti: Perhimpunan Pelajar Indonesia di seluruh Dunia (PPI Dunia), Ikatan Ilmuan Internasional Indonesia (I4), Radio PPI Dunia adalah sebagian contoh kecil dari usaha membuat link and match, para pelajar Indonesia di seluruh dunia. Karenanya pula, peran PERPIKA memgang andil yang sangat penting sebagai pemimpin para pelajar Indonesia di Korea dan juga sebagai jembatan khusus yang menguhubungkan para pelajar di Korea dengan jaringan-jaringan yang ada di luar Korea Selatan.

Optimisme, sebagai garda terakhir kemajuan

Mungkin hanya optimisme sebagai garda terakhir kemajuan Indonesia yang bisa dimiliki oleh para pelajar. Apabila para pelajar sebagai kelompok terdidik sudah tidak memiliki apa yang disebut dengan optimisme akan keberhasilan dan hari esok nan cerah di Indonesia, maka masa depan Indonesia akan sangat mengkhawatirkan. Kemana lagi para petani dan nelayan harus mengadu ketika hasil kerja keras mereka tidak berbuah manis ketika masa panen tiba kecuali kepada para sarjana pertanian dan perikanan kita? Atau para buruh-buruh pabrik di Indonesia -yang menyambung hidup saja tidaklah cukup yang menginginkan adanya mobilitas vertikal terjadi di anak-anak mereka, jika para sarjana sudah tidak semangat untuk membangunkan potensi-potensi yang ada di puluhan juta anak Indonesia yang tersebar di setiap provinsi. Harapan itu akan selalu ada, dan harus ada di setiap dada para pelajar Indonesia di manapun berada. Karena kekuatan yang besar, selalu diikuti oleh tanggung jawab, dan beban moril untuk mengamalkannya.

Bahwa apa yang para pelajar Indonesia lakukan saat ini, di manapun mereka berada, mereka sedang mengemban sebuah amanah yang berat. Bukan hanya membawa cita dan impian pribadi, tapi mereka juga sedang membawa harapan dari jutaan orang yang menunggunya di tanah air, untuk membuat Indonesia lebih baik. Menyelaraskan keduanya membutuhkan keikhlasan, mensukseskannya membutuhkan persiapan dan menjalankannya membutuhkan kesabaran serta ketahanan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2011

*Penulis adalah Mahasiswa program Doktor di Yeungnam University, Korea Selatan.

Referensi:

1. Nations, U., World Population Prospects: The 2008 Revision. Highlights. 2009, United Nations: New york.

2. Sweetman, A., Working Smarter: Education and Productivity. 2002, Centre for the Study of Living Standards Canada. p. 157-180.

3. Team, H.D.R., Human Development Report 2010. The Real Wealth of Nations: Pathways to Human Development. 2010, United Nations Development Programme (UNDP).

4. KMI. http://kmikorea.net/.

5. Universitas Terbuka. http://www.jakarta.ut.ac.id/index.php/berita-upbjj-ut-jakarta/32-pembukaan-layanan-ut-di-korea-selatan-.html

Advertisements

Discussion

One thought on “Lomba Essay Hardiknas PERPIKA 2011

  1. terima kasih,, tambah wawasan lagi akhirnya.

    Posted by Anonymous | May 2, 2012, 12:09 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Advertisements
%d bloggers like this: