Artikel Bebas, Building, International, Landscape, My Thoughts, Scenery

September Ceria (part IV): Berlin to Karlsruhe

Mendengarkan lagu Indonesia dalam perjalanan membelah Negara Jerman, rasanya sih… tak terbanyangkan indah dan asiknya guys… wish you were here, kita bisa liat padang rumput yang mulai ‘digunduli’ karena musim gugur sudah dating. Daun-daun mulai terlihat memereah, menguning, sinar matahari yang cukup terang masih tidak bisa menutupi sejuknya udara di luar, karena sesekali banyak orang yang terlihat memakai jaket agak tebal di sekitar perjalanan ini…
Dengan menggunakan kereta ekspress ICE (inter city express) yaitu kereta ‘ktx’nya Jerman yang mengubungkan antar kota di sini, suasana ‘calm’ gw rasain. Hidup di perjalanan, banyak hal yang bisa dipelajari, dilihat dan tentunya, berharap bisa membuat diri jadi lebih baik…

#NP: Ibu, oleh Iwan Fals
Ibu ku sayang, masih terus berjalan, walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah…
Seperti udara, kasih yang engkau berikan, tak mampu ke membalas, Ibu….
Ingin ku dekap, dan menangis di pangkuan mu, sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa2, baluri sekujur tubuhku… dengan apa membalas, Ibu…. Ibu….
Entah apa yang sedang dilakukan Mama saat ini di rumah… hehe, mungkin sedang ‘berantem’ sama cucu-cucu yang nakal2, atau mungkin sedang sibuk masak dan menerima tamu… oh ya, sekarang jam 5 waktu Jerman, berarti Mama mungkin sudah siap2 istirahat untuk tidur malam… Mohon maaf ya Ma, tidak menelepon beberapa hari ini, semoga surat dengan perangko Jerman akan cukup sebagai sesuatu yang menghibur hilangnya anakmu ini selama 4 tahun…. yang tidak berada di sisimu ketika engkau sakit, kesepian, lelah dalam menghadapi kehidupan, masalah-masalah,,,, diri ini juga sering lupa diri, bersenang-senang yang sering sekali melupakan dirimu….
============

Hehe, mau cerita juga ah, kepergian ke Jerman ini juga agak2 membawa misi Indonesia-nist, hehehe… Kalau bahasa Pandji (tau dong siapa), “Untuk teman2 yang kuliah di LN, tidak usah terbebani untuk harus berkarya untuk Indonesia, karena karya dan prestasi pribadi sendiri, itu sudah merupakan kebanggaan bagi Indonesia di manapun kita berada”, kurang lebih begitu kata doi di Radio PPI Dunia. Well, I did with my own way juga dong… beberapa conference terakhir ini, gw sengaja menggunakan batik sebagai identitas ke Indonesiaan gw. Setiap orang2 dateng ke sesi presentasi atau poster gw, baik mereka nanya atay pas sesi gw memperkenalkan diri, gw selalu bilang, “I’m Indonesian, and I study in South Korea…”. Ketika gw ngomong gitu, rasanya sih asik banget, hehehe… kaya bilang: Hey, we’re Indonesian and we’re here loh! Gak mau kalah sama Korea, India2 atau Chinese  yang penyebaran nya di dunia riset udah kaya saus thousand island di salad yang diaduk rata,,, di mana2 ada, ngasih ‘rasa’, dianggap biasa kalo ada dan kalo gak ada dianggap ada yang kurang… ngomong2 soal peserta conference, agak kaget juga kemaren waktu di bilang, peserta terbanyak dari Jerman (ya ini wajar karena tuan rumah), pas disebut peserta ke dua dan ketiga terbanyak adalah dari? Jepang dan Korea berturut2 (sambil tepok jidat, dalam hati bilang, ampuuun deh, di mana2 ada,,, dan mikir, nih Korea bener2 berusaha mengejar euy).
Eh iya, kembali lagi ke urusan misi Indonesianist,,, gw bawa dua baju yang Indonesia banget, hehe… Baju pertama baju Batik yang gw pake saat presentasi, dan yang kedua baju I love Indonesia yang made in Korea and designed by me, hahaha… baju kedua gw pake saat ‘sesi foto’ di hot spot nya tourist2 pada ngumpul…agak2 ekstrim sih, hahaha, di saat orang2 pake I love berlin, gw pake I love ID, hahaha… harapan gw sih sebenernya simple aja, diotak orang yang baca akan nanya ke diri sendiri atau temen nya, ID itu apa ya? Hehehe…

===========
Perjalanan ke Karlsruhe ini memiliki sebuah misi juga. Di sana, ada seorang ‘jagoan’ yang bidangnya juga merupakan bidang yang saat ini gw sedang kerjakan. Kalau ada istilah kejarlah ilmu hingga negeri China, maka saat ini bisa dibilang gw sedang mengejar ilmu hingga ke Karlsruhe, sebuah tempat  yang jaraknya 5 jam dengan kereta cepat dari Berlin dan ongkos sekitar 120 Euro (banyak juga kan tuh duitnya? Haha). Alhamdulillah  (gak pake gaya artis, hehe),,, Juragan Baek yang baek sangat mendukung hal ini, bahkan semua biaya perjalanan dibayarin, alhamdulillah ya… (yg ini baru pake gaya artis, hahaha). 
Menurut gw, agenda sowan kepada orang pinter kaya begini cukup penting. Dunia yang global ini yang menuntut adanya persaingan yang ketat, dalam titik tertentu masih tetap membutuhkan adanya kolaborasi dan ‘pertemanan’ untuk membuat tujuan awal dari sebuah riset yaitu membuat hidup dan kehidupan manusia menjadi lebih baik dapat terus terpelihara dan tidak terkalahkan hanya dari sebuah urusan bisnis an sich. Idealnya seperti itu… Namun sepertinya ada juga yang perlu diingat, mungkin, si Jagoan yang pengen ditemui ini, tau juga, mungkin saja ada manfaat yang bisa diambil dari sayah, hahaha… Omongan ini bukan tanpa alasan atau Cuma prejudice saja… Jadi ceritanya, deal untuk pertemuan ini dilakukan hanya via email, kami belum pernah bertemu satu sama lain. Surat permohonan bertemu disampaikan sekitar 1 bulan sebelum pertemuan, dijawab seminggu kemudian… hehe, kenapa ada prejudice seperti itu, karena setahun lalu, email bernada sama juga dikirimkan kepada si Jagoan ini, tapi tanpa respon apa-apa, hehehe… Email saat ini nadanya sama, cuma ada yang beda dikit: di email ini saya cantumkan hasil publikasi2 riset yang dilakukan, hahaha,,, mungkin baru kali ini ‘dilirik’ deh, karena ada sesuatu (Sharini banget nih, hahaha). Well, hopefully everything’s going well… bisa sampe ke Lab beliau tepat waktu, ngobrol langsung, liat Lab dan company-nya,,, sukur2 kalo ditawarin kerja di sana setelah lulus, hahaha (ngarep2 sambil doa mode on).  
======
Kurang lebih satu setengah jam lagi sampe di Karlsruhe… sampe sana, langsung deh menghubungi Ardhi. Ardhi ini temen sma di 78, dan kita dari SMP yang sama juga, SLTP N 189, Kelapa Dua, Jakarta Barat… Ardhi adalah makhluk paling pandai waktu di SMP, hal ini bisa dilihat dari perolehan NEM waktu kelulusan.  Konon kata si Ratri (Tour Guide anak2 78 yang saat ini sedang S2 di Berlin, hehe), bahasa Jermannya si Ardhi ini udah cas cis cus banget,,, istilahnya, kalo muntah aja pasti keluarnya bahasa Jerman, hahaha… udah lama banget gak ketemu sama si Ardhi, lebih dari 8 tahun euy… terakhir ketemu dia, orang nya tinggi banget, estimasi gw, setelah 8 tahun ketemu, pertumbuhan tinggi badan gw juga masih gak bisa ngalahin doi lah, hahaha…
Well, saatnya beristirahat di satu jam ini… terima kasih kalau ada yang mau baca tulisan ini sampe habis, haha… mudah2an ada ‘sesuatu’ yang akhirnya nanti bisa dibilang: Alhamdulillah yaaa… hahaha
Advertisements

Discussion

One thought on “September Ceria (part IV): Berlin to Karlsruhe

  1. Wah… keren nih Mas Boy… Kapan ya aye bisa sampai sono… :dreaming

    Posted by Idham 다미시 | October 9, 2011, 4:42 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Advertisements
%d bloggers like this: