Ekonomi dan Budaya, Indonesia, My Thoughts, Organisasi dan Kepemimpinan, Sosial & Politik

Jakarta butuh Revolusi, bukan Sekedar Janji dan Harapan…

DKI Jakarta sebagai pusat ibukota Negara Indonesia, sepertinya sudah kita maklumi bersama keadaannya. Dimaklumi kemacetan; banjir yang jadwal absensinya sebanding dengan aksi demonstrasi yang menjadi rutinitas sehari-hari; keamanan, kenyamanan dan ketenteraman penduduk yang mengkhawatirkan; serta yang cukup mahal saat ini yaitu air dan udara bersih yang menjadi konsumsi warga DKI Jakarta sehari-hari menurun kualitasnya karena harus digantikan dengan hunian yang makin rapat dan menjulang seiring dengan kawasan hijau dan resapan air yang menyempit.
Susah senang yang ada di DKI Jakarta, sejatinya adalah sebagian kecil cermin keadaan Indonesia secara nasional. Dalam bidang ekonomi, kontribusi DKI Jakarta sangat signifikan yaitu sebesar 16 persen jika dibandingkan dengan 32 provinsi lain di Indonesia. Maju mundurnya kondisi perekonomian di Indonesia secara umum memberikan pengaruh kepada peningkatan kemakmuran secara nasional. Jakarta juga dapat dianggap sebagai motor yang menggerakan Indonesia baik dari sektor perekonomian, pemerintahan dan sosial budaya.

Melihat fenomena DKI Jakarta sebagaimana yang dipaparkan di atas, disadari atau tidak, ada hal yang lucu terjadi: Warga DKI dan Pemerintah Daerah terkesan tidak kompak, saling dukung dan memiliki visi bersama. Contoh kecil, ketika menghadapi kemacetan parah di sebuah jalan di ibukota, kadang sumpah serapah dengan mudahnya keluar menyalahkan Pemda yang (dianggap) tidak becus menata tata kota, padahal di saat yang sama, orang tersebut mengendarai mobil, berpenumpang dirinya saja. Tidak kalah lucu, pembenaran pun kadang dilakukan oleh pihak Pemda atas masalah-masalah yang terjadi: fenomena alam, banjir kiriman kota sebelah, urbanisasi yang membludak, topografi kota dlsb. Harus diakui, tidak ada kebijakan tranksaksional, yaitu kebijakan yang dimulai dari sebuah pertanyaan: apa yang dibutuhkan warga, solusi apa yang bisa dikerjakan bersama dan kemana arah pembangun kota Jakarta.
Belajar dari kota tetangga
Malaysia berhasil mengurangi kesemrawutan Kuala Lumpur dengan memindahkan pusat pemerintahaannya ke Putra Jaya. Memindahkan semua yang berbau ‘pusat’ sama layaknya memindahkan posisi gula, yang akan diikuti oleh semut-semut. Sayangnya, di Jakarta saat ini, yang terjadi malah sebaliknya. Dalam dekade terakhir ini, terlihat pembangunan pusat-pusat elektronik, bisnis-perkantoran, perbelanjaan, pusat kekuasaan – partai politik, pendidikan, semua berada di Jakarta. Jakarta terlalu serakah dalam menampung semua pusat-pusat tersebut sehingga sangat layak untuk menerima konsekuensi logis yang terjadi: 6 jutaan ‘semut’ mendatangi Jakarta di waktu pagi dan meninggalkannya di saat sore.
Perhatian Pemerintah Pusat maupun Daerah kepada transportasi publik juga sangat lemah. Di saat Pemerintah berteriak di DPR untuk menaikan harga BBM, mereka seakan menutup mata bahwa triliunan rupiah bensin bersubsidi yang dipakai jutaan motor, angkutan umum dan mobil semi-mewah, habis terbakar percuma karena jarak 20 kilometer di Jakarta bisa ditempuh dalam satu jam perjalanan, bahkan lebih. Melirik kepada kota Tokyo dan Seoul yang tidak kalah padatnya dan dari sisi perbandingan kepadatan penduduk yang layak diperbandingkan, transportasi publik yang nyaman, aman, layak dan tanpa hambatan adalah solusi jitu untuk mobilisasi penduduk di dalam kota. Warga Kota Seoul dari berbagai strata sosial, tahu diri dan sadar bahwa subway dan bus adalah pilihan tepat untuk menghindari kemacetan, tepat waktu menuju suatu lokasi dan tentunya menghemat pengeluaran dari bahan bakar fosil yang di mana 100%-nya diimpor dari berbagai belahan dunia, Indonesia salah satunya. Jika membandingkan dengan Jakarta, dalam hal ini melalui sistem transportasi publik cepat (mass rapid transportation) berupa kereta dan bus way, Jakarta tercinta cukup jauh tertinggal.
Tabel Perbandingan Kondisi Jakarta dengan Beberapa Kota di Dunia
Kota
Populasi
(Tanpa penduduk commuter)
Luas Wilayah
(km2)
Kepadatan Penduduk
(populasi/luas wilayah)
Sistem Transportasi Publik Cepat (MRT)
Jumlah Stasiun
Daya Tampung per hari
Jakarta
9,5 juta [1]
662[2]
14.476
68*[3]
0.4 juta [4]
180**
0.3 juta
Seoul
10,5  juta[5]
605[5]
17.473
120
4.1  juta[6, 7]
Tokyo
13,2 juta [8]
2.188 [8]
6.032
179
6.3 juta [9]
Singapura
5,2 juta 
710
 7.302
102
2.4 juta
*Jalur Kereta Commuter
**Jalur Busway
Note: Kota lain tidak dimasukan elemen bus.
Mungkin ada pertanyaan yang menggelitik, Apa tidak banyak orang yang memiliki mobil di Seoul dan tidak ada kemacetan? Di Seoul banyak mobil dan terjadi kemacetan, tapi hal itu adalah kondisi setelah usaha terbaik yang mereka hadapi dengan infrastruktur jalan yang umumnya mampu menampung 3-5 lajur per bahu jalan, subway (kereta bawah tanah) dan transportasi bus seperti busway di Jakarta yang tidak berhenti dan ngetem di sembarang tempat. Uniknya lagi, Pemerintah kota Seoul terus membangun subway tanpa berhenti berpuas diri, dan pihak swasta pun turut serta membantu, karena semua menyadari bahwa bisnis transportasi adalah fresh money yang akan terus mengalir ke kantong para investor (baca laporan keuangan transportasi publik di Singapura[10]).
Kota Paris, Amsterdam, Venessia dan kota-kota lainnya di eropa, pun seharusnya juga menjadi pelajaran bagi para Anggota DPR dan Pejabat yang sempat belajar ke sana, walau beberapa hari saja. Sistem drainase di bawah kota, dam dan waduk, adalah benteng kokoh yang menjaga kota-kota tersebut dari terpaan banjir maupun pasang surut air laut. Karenanya, letak geografis dan topografis Jakarta, tidak dapat melulu dijadikan alasan, bahwa banjir yang menjadi langganan di Ibukota adalah sesuatu yang tidak dapat diubah dan di luar kuasa manusia, dan manusia hanya butuh kesabaran dalam menghadapinya. Bahkan mungkin tak usah jauh-jauh untuk studi banding ke Eropa, melirik tetangga sebelah kita Singapura, yang saat ini sudah ‘sangat eropa’, seharusnya menjadi cambuk untuk kita, mengapa mereka bisa? Siapa mereka di era 70-an dan siapa DKI Jakarta di era tersebut? Mengapa saat ini kondisi kita seperti ini?
Untuk memperbaiki itu semua Jakarta dan penduduknya haruslah siap berkorban, investasi yang sangat banyak, revolusi! Bukan hanya terkait dengan pendanaan-yang seharusnya bukanlah masalah besar-, tapi juga merubah mindset para warga DKI, bahwa menumpahkan seluruh harapan dan tanggung jawab kepada Pemda DKI bukanlah hal yang bijak, karena kebersamaan Pemerintah dan Warga membangun kota adalah kunci revolusi kita.
Jakarta Butuh Revolusi
Jakarta butuh revolusi, ya, itu mungkin yang dibutuhkan Jakarta. Perubahan siginifikan yang dilakukan oleh seluruh elemen yang berada di dalamnya. Siapa saja yang harus turun tangan? Semuanya!  Masyarakat yang peduli, kecewa atau bahkan yang sudah terbiasa dengan banjir, harus ikut serta paling tidak mengurangi potensi banjir, secara bersama dan berkelanjutan. Berapa banyak rumah, kantor, pabrik, mal di Jakarta yang memiliki bioporous/sumur resapan? Sejauh mana usaha memisahkan sampah basah (organik) dan daur ulang di Jakarta? Sedikit berbicara tentang sampah, pola fikir kita yang belum ber-evolusi masih menganggap sampah adalah: sampah, produk sisa yang tidak terpakai. Padahal di negara-negara maju saat ini, sampah adalah sumber uang dan potensi yang besar, dengan hanya bantuan setiap warga negaranya untuk memisahkan sampah gelas/plastik, kertas dan basah/makanan, itu saja.   
Di lain sisi, sejauh mana pula usaha PemDa dalam mengembalikan fungsi sungai, kawasan rawa dan lahan hijau di Indonesia? Atau mungkin yang cukup revolusioner, seberapa besar kekuatan para pengambil kebijakan di Jakarta untuk menahan ‘sejenak’ laju investasi: pembangunan perumahan, mal – pusat perbelanjaan dan pusat-pusat lainnya yang menyebabkan laju mobilitas horizontal meningkat dan berkurangnya lahan? Hal lain, apa mungkin di Jakarta di bangun dam besar yang dapat melindungi seluruh warga Jakarta? Ingat, kita sedang bermain di tataran revolusi.
Seberapa banyak warga Jakarta yang rela menggunakan angkutan umum, mengoptimalkan penggunaan kendaraan dengan sistem 1 kendaraan lebih dari 1 penumpang atau bahkan tidak menggunakannya di hari kerja? Untuk membayangkan betapa sumpeknya Jakarta sederhana saja: di saat pagi dan sore hari, seluruh Anggota DPR, para Pejabat teras baik di Pemda maupun Departemen, para Assisten Manajer dan level ke atas seluruh Perusahaan Swasta; Guru/Dosen, Mahasiswa bahkan para pelajar SMA; dan para pelaju dari daerah pinggir Jakarta semuanya menggunakan mobil pribadi; semua melintasi Jakarta dan bahkan belum lagi angkutan berat yang membelah Kota Jakarta yang dikarenakan lokasi pelabuhan/kargo, industri dan pusat distribusinya semua berada di pinggir Jakarta, dan jarak tempuh terpendek adalah dengan melintasi Jakarta. Karenanya, mungkin saja sikap individualis, gengsi, tidak ada toleransi dan kebersamaan, dan sikap serakah menjadi beberapa faktor penyebab kemacetan di Jakarta. Mau merubah Jakarta? Rubah dulu kebiasaan kita.   
Stop Mengeluh hidup di Jakarta!
Kalau kita tidak suka hidup di Jakarta, maka ada banyak alternatif  Kota lain di Indonesia yang dapat kita tempati yang kualitas udara dan airnya jauh lebih baik, yang tidak ada macet, tidak banjir dlsb. Kalau kita tetap memilih Jakarta dengan segala ‘pemakluman’ yang ada, maka berhentilah mengeluh dan jadilah bagian dari perbaikan Jakarta. Kalau kita masih menjadi bagian dari penyebab masalah, belum mampu bahkan tidak berusaha berkontribusi dalam perbaikan Jakarta, atau Jakarta hanya menjadi tempat kita untuk bekerja tanpa ditinggali, maka kita tidak berhak mencaci-maki Jakarta. Siapapun Gubernur DKI dan sampai kapanpun, tidak akan ada yang mampu merubah Jakarta, kalau tidak diikuti oleh partisipasi aktif warganya. Karenanya, jangan pernah menaruh seluruh harapan dan tanggung jawab kepada Pemerintah! Kita adalah aktor hidup yang bisa membuat harapan menjadi kenyataan, dan mampu bertanggung jawab untuk Jakarta yang lebih baik.

… sepertinya, kita perlu mendalami lagi slogan yang tertera di kelurahan-kelurahan tempat kita mengurus KTP di Jakarta: “Kampung kite, kalo bukan kite yang urus, siape lagi…”

Andy Tirta
Penulis lahir dan dibesarkan di Kota Jakarta.

Advertisements

Discussion

9 thoughts on “Jakarta butuh Revolusi, bukan Sekedar Janji dan Harapan…

  1. Gimana kalau beberapa tahun kedepan mas boy yang pimpin Jakarta,,,,?

    Posted by Anonymous | September 21, 2012, 9:47 am
  2. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

    Posted by andimasboy | September 21, 2012, 10:54 am
  3. kkkk… oalah Mas/Mba,mimpin RT aja saya belum berhak ^^

    Posted by andimasboy | September 21, 2012, 10:55 am
  4. Sebetulnya saya melihat banyak hal yang sudah diupayakan di Jakarta. Pernah suatu waktu saya melihat ada maket yang menunjukkan pola transportasi makro di Jakarta, dimana Busway, Monorail, dan MRT (yang waktu itu masih diupayakan dalam bentuk jembatan layang 3 tingkat). Semua tampak terintegrasi, dan yang menjadi pertanyaan, kenapa ide itu ada, tapi tidak ada implementasinya. Kita punya banyak ahli tata kota, ada yang lulusan Jerman dan Cum Laude, ada yang mungkin lulusan lokal dengan pengalaman yang banyak, tapi yang dibutuhkan partisipasi dan seorang pemimpin yang bisa menggerakkan warganya. Tulisan andimasboy ini bagus, dan benar kita harus revolusi, bergeraklah, karena kota ini akan semakin padat, dan semakin banyak orang yang mengeluh akan kota ini. Saya bukan tinggal di Jakarta, tapi saya adalah salah satu orang yang memenuhi Jakarta setiap jam kerja, bagian dari beberapa juta orang yang hilir mudik masuk ke Jakarta di pagi hari, dan keluar Jakarta pada sore hari. Saya tidak punya hak pilih di Pilkada, tapi saya merasakan dampaknya dari setiap pemilihan kepala daerah di Jakarta.Saya cuma bisa berharap, Jakarta harus berbenah, dan menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, bukan hanya tempat untuk mencari rejeki.

    Posted by Anonymous | September 21, 2012, 3:50 pm
  5. Intinya mulai dari kesadaran diri sendiri (selalu jadi jawaban ampuh kalo di diskusi :D). Tulisannya bagus dan cukup membuat kita sadar. Tapi kan nggak semua orang jakarta baca blog ini. Makanya tetap dibutuhkan keteladanan pemimpin dan ketegasan hukum penguasa untuk memudahkan proses penyadaran masyarakat. Suka sama tabel perbandingan jakarta dengan beberapa kota. Benar dugaan saya, korea mirip indonesia, dari kepadatan penduduk sampai historinya sebagai negara berkembang, makanya studi banding bagusnya di korea aja 😀 Saya berharap, apabila jakarta sukses berubah lebih baik akan ditiru daerah2 lain dan pemerintah pusat. Jangan diulang kesalahan sentralisasi jaman orba. Apabila jakarta sudah tertata, jangan lagi2 banyak urbanisasi dan kesenjangan di daerah. We expect more from 2014 🙂

    Posted by Unknown | September 22, 2012, 11:15 am
  6. suwun untuk tanggapannya Mas…waktu saya kuliah, seorang teman yang sedang sosialisasi project di Pemda DKI juga menceritakan, Multi Purpose Deep Tunnel juga waktu itu mau dibangun, saya inget awal diskusi itu sudah dimulai sejak 2007. Bukan hanya menjadi alternatif jalan baru yang menghubungkan daerah pancoran sampe ke sekitar Jakut, tapi juga sewaktu-waktu jikalau banjir dapat dijadikan jalur air. Idenya luar biasa.Permasalahan mengenai biaya, saya fikir gak mungkin Mas, saya yakin banyak pihak yang mau membiayai proyek2 yang ada di Indonesia, apalagi Jakarta. Saya fikir permasalahannya lebih kepada: Kebijakan dan jaminan Pemda – Pemerintah Pusat, prioritas pembangunan dan tidak terintegrasinya sistem pembangunan Jakarta dan daerah2 pendukungnya (suburban).

    Posted by andimasboy | September 27, 2012, 1:03 pm
  7. matur suwun untuk masukannya Mas/Mba…Dari buku yang saya baca, ada dua hal yang bisa menjadikan masyarakat menjadi disiplin Mas/Mba, yaitu: dengan membangun kesadaran dan yang kedua membangun sistem. Singapur memulainya dengan membangun sistem (terkenal dengan fine city nya kan), korea membangun dengan membangun kesadaran (dengan saemaul undongnya). Dua2nya, menurut saya harus diperjuangkan di Jakarta.Hehehe, tulisan saya ini kan cuma kontribusi kecil Mas/Mba, tapi saya berharap ada orang-orang yang baca, dan menjadi komunitas yang saling mengingatkan, saling mencerahkan…. 🙂

    Posted by andimasboy | September 27, 2012, 1:08 pm
  8. wih sayang saya nemu blog ini baru sekarang..hmmm, sepertinya kalo ingin jakarta dgn sistem transportasi sebaik seoul dan Tokyo rasa-rasanya bakal banyak warga yang tergusur..masalahnya bukan hanya vertikal namun horizontal.complicated rasanya 😦

    Posted by Adi | October 28, 2012, 2:01 am
  9. suka kak boy tulisannya…
    Permasalahan yg dr dlu ga kelar2 emang…penyebabnya internal eksternal memang.

    Posted by Asma Azizah | December 21, 2012, 10:35 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Advertisements
%d bloggers like this: