Indonesia, My Thoughts, Organisasi dan Kepemimpinan

Senyum seorang Pahlawan

Kemarin, Hari Pahlawan Nasional. Kemarin juga, menjadi hari Resepsi se-Dunia, karena banyak orang yang mengambil hari ini sebagai hari bersejarah untuk mereka menyelenggarakan resepsi pernikahan 10-11-12, hehe. Dua hari ini, saya mendapat dua pencerahan, tentang konsep Kepahlawanan dan Kesuka citaan. Beberapa tokoh nasional Indonesia, dan beberapa tokoh yang tak pernah muncul di media massa (yang tak sengaja saya melihat aktivitasnya melalui foto-foto di jejaring sosial), sangat menginspirasi dalam memaknai konsep kepahlawanan.

Hmmm, seluruh orang hebat yang kita kenal sebagai Pahlawan, saya yakin, mereka pun juga memiliki saat-saat menyenangkan untuk bersuka cita. Sosok Pahlawan dengan persepsi ekspresi jidat yang selalu berkerut, tentu juga memiliki saat-saat senyum lebar terpancar dari pipinya. Terlepas dari sisi manusiawi yang bisa membuat mereka tertawa dan tersenyum bahagia, ada beberapa momen yang menurut saya hanya akan dialami oleh para Pahlawan, yang bisa membuat mereka tersenyum …

a. Tersenyum ketika mendapat ujian

Tidak gampang untuk tersenyum di saat seperti ini. Namun seorang Pahlawan, mungkin masih bisa mengirimkan secercah senyuman. Fikirnya, ujian yang datang kepadanya mungkin terasa lucu. Hartanya mungkin banyak keluar untuk perjuangan yang ia yakini. Keluarga? Tak jarang untuk ditinggalkan. Kesenangan untuk berekreasi, jalan-jalan melihat indahnya taman di pusat kota, menghampiri makanan enak, mungkin tak sesering ‘orang biasa’ lainnya. Tentu dia akan tersenyum, betapa skenario Tuhan selalu baik untuk dirinya, Tuhan terlalu ‘sayang’ kepada dirinya, ia selalu mengalami ujian. Anak sakit, biaya pendidikan, uang untuk dapur, atau di sisi lain, perjuangannya seperti tak memiliki ujung yang cerah dan kepastian. Para Pahlawan ini akan tersenyum, setelah merasa dirinya kelelahan. Dalam sabar, badan yang tertatih dan keringat yang mengucur ia berbisik: “Terima kasih Tuhan, alhamdulillah… Segala puji hanya milik Mu, masih jauh perjuangan ini dari apa-apa yang engkau berikan di hidup ini, mata ini, telinga, tubuh yang sempurna, keluarga, para sahabat… Perjuanganku, tak ada seujung kuku dari nikmat-Mu”. Ia tersenyum.

b. Bahagia ketika Berjuang

Para Pahlawan ini menyadari, perjuangan yang ia lakukan bukanlah sebuah momentum ‘buang sarat’, yang dilakukan pada sisa waktu luang, sisa uang yang disisihkan atau juga sisa perjuangan yang belum dilakukan. Para Pahlawan ini justru merasa, bahwa setiap hari yang dilaluinya adalah bentuk perjuangan, perjuangan dalam mencapai apa yang diimpikannya, sebuah kebaikan untuk orang-orang di sekitarnya, anak cucunya, sebuah peradaban. Tak ada kata: “Perjuangan saya adalah perjuangan di akhir pekan… Ketika diri saya memiliki waktu luang dan kelebihan rezeki…”. Tak jua seorang Pahlawan berkata: “Nanti saya akan berjuang, ketika perut sudah kenyang, kasur dan atap rumah sudah nyaman terbentang, fikiran matang atau sudah mampu turun naik kendaraan terbang…”. Para Pahlwan ini, mereka sadar, sejak bangun dirinya sebelum subuh hari, pertanyaan dan daftar pekerjaan sudah melayang: siap kah hari ini berjuang? Ia pun, tersenyum.

c. Tersenyum setelah yang lain tersenyum

Para Pahlawan, mereka sadar: bahwa Tuhan memilih sedikit di antara suatu kaum, untuk mengajak kaum tersebut kepada kebaikan. Sedikit!. Para Pahlawan ini mereka tahu: harus ada yang mendahulukan dan yang melayani orang lain. Mereka sadar, apabila mayoritas orang belum terbangun untuk berfikiran hal yang sama, kekacauan akan terjadi, keserakahan, emosi dan egoisme akan menggurui. Para Pahlawan ini sadar, mengajak kepada kebaikan dan kesadaran, harus diselipkan aturan main yang tegas dan jelas, memberikan hukuman bukanlah hal yang dikhawatirkan, seperti memberi apresiasi kepada yang membawa kesuksesan. Ya, semua diberikan oleh Pahlawan untuk ‘sebagian besar’ rakyatnya, karena kesadaran, ia adalah bagian yang kecil. Para Pahlawan ini, akan mendahulukan orang lain, masyarakat di sekitarnya tersenyum lebih dahulu,  sehingga ia pun bisa tersenyum.

Mungkin, kita akan sampai kepada pertanyaan: Siapa para Pahlawan yang tersenyum tersebut di atas? Yang senang memikirkan kepentingan orang lain? Yang senang berjuang setelah bangun dari lelah yang terkubur dalam lelapnya tidur? Yang mendahulukan senyum orang lain, sebelum dirinya tersenyum?

Those heroes are in YouAnda yang membaca tulisan ini, adalah para Pahlawan yang lahir dan hadir untuk menyadari sebagai bagian dari yang sedikit 🙂

Semoga semangat Kepahlawanan tak pernah padam, bergerak!

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Advertisements
%d bloggers like this: