Islam, My Thoughts

Belajar Ikhlas demi Masa Depan

Ikhlas. Kata ini mungkin sering sekali kita ucapkan, namun di saat yang sama kita selalu memberikan embel-embel : ikhlas itu tidak mudah loh. Persepsi ini ternyata berkembang dan terus ada di alam bawah sadar kita. Sehingga tidak dinafikkan, kadang kita sering bertanya, apakah saya ikhlas atau tidak melakukan perbuatan ini, dan itu. Dalam Al-Quran, Allah swt mengingatkan: “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (al-Baqarah [2]: 264). Karenanya, Belajar tentang keikhlasan, sama dengan mempersiapkan kesuksesan untuk kemudian hari.

 

Apa itu ikhlas?

Ikhlas berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. Ikhlas adalah melakukan amal perbuatan yang ditujukan hanya kepada Allah secara murni atau tidak mengharapkan imbalan dari orang lain1. Perbuatan ikhlas dibarengi pula dengan keyakinan atas perbuatannya dan tidak memiliki keinginan untuk menarik kembali apa yang telah ia lakukan. Ikhlas menjadi penting karena Allah menerima perbuatan yang dilakukan secara murni karena Allah dan bertujuan mencapai keridhaan-Nya (Hadits Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa`i dari Abu Umamah). Karenanya, apabila kita harus ‘berhitung’ dengan pola untung rugi, maka tentunya kita akan sadar bahwa derajat di sisi Allah swt (pahala), akan lebih baik daripada hanya sekedar pujian atau sekedar ucapan terima kasih. Tentunya kita harus juga sadar, bahwa pujian dan ucapan terima kasih hanya bersifat sesaat, mungkin hanya 1-2 jam saja, setelah itu, orang yang memuji atau mengucapkan terima kasih ‘mungkin’ sudah lupa dengan apa yang kita lakukan.

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlaq yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” (Shaad [38]: 45-46)

Karenanya, Orang-orang yang beriman yang mencapai tingkat kesucian yang didefinisikan dalam Al-Qur`an, yakin kepada Allah “dengan menunjukkan rasa khidmat yang mendalam”. Ini berarti mereka mengerti akan kebesaran dan kekuatan Allah swt. Karenanya, ia merasakan cinta yang mendalam, pengabdian yang murni, dan rasa takut, dengan tidak pernah meninggalkan kesempatan untuk mendapatkan keridhaan-Nya demi keuntungan duniawi. Keikhlasan adalah mengetahui bahwa tidak ada keuntungan duniawi, kecil ataupun besar, yang dapat menjadi lebih penting daripada mendapatkan ridha dan menjalankan perintah-Nya2. Di dalam Al-Qur`an, kualitas orang-orang yang benar itu dijelaskan sebagai berikut.: “… mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit….” (Ali Imran [3]: 199).

Pilihan untuk ikhlas ada di awal, saat melakukan dan sesudah perbuatan. Dengan meniatkan diri melakukan sesuatu karena Allah swt, kita sudah memenangkan sebuah kebaikan. Ketika melakukannya dengan cara yang baik dan benar sesuai syariat Allah swt, kita memenangkan kembali sebuah pertarungan hati dan diri. Dan akhirnya, setelah kita melakukannya, maka haruslah selalu terlintas dalam fikiran kita, bahwa kita tidak mau mengorbankan apa yang Allah swt janjikan, dengan hanya mengharap pujian dan ucapan terima kasih. Karena apa-apa yang ada di sisi Allah swt pada hakikatnya jauh lebih baik, dan jika Allah swt ridho, maka cukuplah hal tersebut menjadi pembalas peluh keringat dan apa-apa yang sudah kita sumbangkan. Hal lain sebagai pengingat, percaya dan yakinilah, bahwa apa-apa amal kebaikan yang kita lakukan tidak lah lebih hebat dari pada perjuangan dan pengorbanan para orang sholeh di sekeliling kita, dengan begitu, maka rasa ujub, riya dan sombong, insyaAllah, akan terlepas dari kehidupan kita, amin.

 

Wallahu a’lam bishawab

 

Sumber :

  1. http://mutiaradibalikmusibah.blogspot.com/2009/08/arti-ikhlas.html
  2. Keikhlasan dalam Telaah Al-Qur’an. Harun Yahya.
Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Advertisements
%d bloggers like this: