Islam, My Thoughts

Tahanlah Amarah

Islam sebagai agama yang memberikan kebaikan kepada alam semesta memberikan panduan kepada para pemeluknya untuk melakukan hal-hal yang terbaik dalam kehidupan social bermasyarakat. Sebagai sebuah panduan dalam hidup sukses di dunia dan akhirat kelak, apa-apa yang menjadi kewajiban dan larangan dalam Islam sejatinya adalah untuk manusia-lingkungan sekitar dan pemeluk Islam sendiri.

Dalam sebuah hadist shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Sebagai agama yang menjunjung fitrah manusia (sifat dasar), mengapa Rasululloh saw melarang kita untuk marah? Sedangkan marah sendiri adalah hal yang alami dan dapat terjadi pada diri setiap orang.

Para Ulama (semoga Allah selalu meridhoi-nya), memberikan penjelasan bahwa apa yang dimaksud Rasululloh saw adalah bukan melarang rasa marah, namun yang dimaksud adalah menguasai dan mengendalikan diri kita ketika rasa marah muncul di dalam diri kita. Hal ini bisa dipahami karena ketika seseorang sedang marah, syetan sangat mudah untuk menghasut manusia melakukan segala hal yang tidak terpuji: berkata kotor, melakukan tindakan kriminal, melukai dan banyak lagi perbuatan-perbuatan yang akan menyebabkan si pelaku menyesali perbuatannya kelak. Bahkan, tidak jarang juga kita mendengar, kemarahan menyebabkan beberapa penyakit seperti stroke, serangan jantung dlsb. Yoichi Chida, MD, Ph.D dari Departemen Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat, University College, London mengemukakan bahwa marah dan sikap permusuhan dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung koroner sebesar 19% pada orang sehat. Pada mereka yang sudah punya riwayat penyakit jantung sebelumnya, peningkatan ini mencapai 24%.

Dalam sebuah hadits, Abu Musa r.a. berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Islam manakah yang lebih utama?’ Beliau menjawab, ‘Orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya. “‘[HR Bukhari]. Dalam hadist lain diriwayatkan dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam“Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka”. Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan” (HR. Thobrani, Shohih)

Dalam kitab ihya ulumuddin, Imam Ghazalli membagi 3 kategori marah : marah yang terpuji, yang tercela dan yang diperbolehkan. Marah yang terpuji adalah marah yang disebabkan karena Allah swt, missal marah ketika melihat hukum-hukum Allah swt di injak-injak, perbuatan maksiat merajalela, melihat ketidak adilan, dlsb. Marah yang tercela adalah marah yang disebabkan oleh maksiat dan hawa nafsu. Sedangkan marah yang mubah atau dibolehkan adalah marah yang tidak berkaitan dengan maksiat. Tentunya, proporsi dalam melampiaskan kemarahan haruslah sesuai dengan kaidah yang diajarkan oleh Islam: tidak berlebihan dan dalam kebenaran.

Dalam sebuah hadist : “Tidaklah diajukan dua pilihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali beliau akan memilih yang paling mudah, selama tidak mendatangkan dosa. Jika itu adalah dosa, maka beliau akan menjauhi keduanya, dan demi Allah beliau tidak pernah marah karena urusan pribadi yang beliau hadapi, kecuali jika kehormatan Allah dilanggar maka beliau akan marah karena Allah.” (HR. Bukhari).

Marilah kita memulai diri untuk memperkenalkan Islam di bumi ginseng ini dengan menjadi insan-insan yang berakhlak terpuji dengan salah satunya mampu mengendalikan diri ketika emosi sedang memuncak. Ber-taawudz, merubah posisi tubuh, ber-wudhu, merubah posisi tubuh: berdiri-duduk-berbaring, dan mengingat besarnya pahala dan anjuran Rasululloh SAW atas kebaikan bagi orang-orang yang mampu menahan amarahnya; insyaAllah dapat  menjadi pembasuh bara amarah ketika sedang memuncak. “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imron 3:134) “. Semoga ayat terakhir berikut ini menjadi penyemangat kita semua, untuk selalu mengendalikan diri dalam menaati apa-apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya

 

Wallahu a’lam bisshawab

 

sumber :

  1. http://pengenkemadinah.wordpress.com/2010/01/21/jangan-mudah-marah/
  2. http://tokoklink.wordpress.com/category/penyakit-dan-obat/
  3. http://majalah.hidayatullah.com/?p=1106
  4. http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/jangan-marah.html
  5. Dlsb.

 

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Advertisements
%d bloggers like this: