Artikel Bebas, Ekonomi dan Budaya, International, wild and free

Bunga dan Tanaman Hias

Sebelum saya memulai tulisan tentang ini semua, sebelumnya saya harus menjelaskan, bahwa pengetahuan saya sangat sedikit tahu tentang urusan bunga dan tanaman hias ini. Walau dulu hidup bertetangga dengan warga yang berjualan tanaman hias, namun ilmu saya tentang ini hanya berkutat di nama-nama pohon yang terkenal saat itu, seperti: palem botol (jenis pohon palem, tapi bertubuh buncit mirip botol :D), WaliSongo (disebut demikian karena berdaun umumnya 9) dan pohon cemara natal. lainnya? hmmm, kurang euy, hehe

Tiga hari lalu, saya sempat menemani seorang pengusaha bunga dan tanaman hias dari Indonesia yang melakukan kunjungan bisnis ke seorang Agen penjualan bunga dan tanaman hias di Seoul. Istilah Agen di sini mungkin kurang pas, karena dia berperan sebagai Agen dari para Agen :D. Mr. Hwang ini adalah Ketua Industri dan Penjualan bunga Korea. Di tangannya, bisnis bunga dan tanaman hias di sekitar Seoul dan di Korea dikuasainya. Lebih dari itu, bisnisnya mencakup menyuplai bibit, tanaman siap jual ke para ‘petani’ di Korea dan juga mencari negara-negara yang bisa menyuplai maupun menanam bibit yang ia punya. Seorang Indonesia yang saya temani ini juga bukan orang sembarangan. Beliau mengaku petani, tapi setelah mendapat kartu namanya, saya bisa menangkap bahwa bisnis Bapak dari Indonesia ini sangat besar, karena menjadi agen para petani tanaman hias di Indonesia dan menyuplainya ke banyak negara di eropa dan asia.

Sehari bersama mereka, banyak hal yang saya pelajari. Phew, tak kusangka, ternyata seperti itu berbisnis di bidang bunga dan tanaman hias ini. Banyak sekali restriction, krtieria dan prosedur yang harus dilewati. “Kita mau pohon dengan tebal batang seperti ini, jumlah ranting minimal tiga, daunnya tidak terlalu panjang dan kurus…” What d…. &()^*%$ :D. Sebagai anak metalurgi yang bergerak dimetode fabrikasi/manufacturing, saya gak abis fikir, gimana cara bikin tanaman/bunga bisa sesuai dengan maunya kita. Oke, saya ngerti dengan adanya kawin silang, yang bisa memunculkan jenis dan kriteria baru namun ternyata, ternyaat para petani tahu bahwa: suhu, udara, kelembaban, kadar air, aerasi, cahaya matahari, dll, mempengaruhi tumbuhnya suatu tumbuhan. Karenanya, permintaan akan spek seperti itu, tidak mengagetkan di kalangan mereka.

https://i1.wp.com/sphotos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/6978_10151155371302647_1837649803_n.jpg

Menurut Pa Hadi (berbaju putih), pasar bunga dan tanaman hias Korea saaaaaaangat besar… Bahkan kata Bapak dr Indonesia ini, salah satu yg terbesar di dunia. Lahan yg sempit, 4 musim dan terbatasnya persediaan barang jika dibandingkan dgn pembeli menjadi bbrp penyebabnya. Efek dari tanaman hias yang dipercaya memberi efek antioksidan menjadi penarik banyak pembeli utk menaruh tanaman hias ini di dalam rumah.
Membuka lahan seperti foto di atas di Korea cukup mahal, karenanya bukan hal yang aneh mereka melakukan ‘outsourcing’ ke negara-negara lain untuk melakukan pembibitan dan pengembangan. Biaya buruh yang relative lebih murah, iklim yang baik, dan lahan yang murah, menjadi sebagian alasan dari mereka.

Dalam suatu diskusi dengan Pa Hadi, saya diberitahu beliau, bahwa Belanda adalah pusat ‘pasar kembang’ dunia. Bahkan kata beliau, 60% devisa mereka berasal dari pasar kembang tersebut. Di sanalah bunga dari seluruh dunia dikumpulkan, dan dijual lagi. Jadi jangan heran, kalau seorang penyuplai Indonesia menaruh bunga di Belanda, pembelinya berasal Singapur, xixixixi…

Dalam berbisnis bunga pun juga banyak trik khususnya, di antaranya: jangan pernah langsung meng-iya-kan para pembeli, walaupun ia seorang pembeli besar (besar di sini hitungannya kontainer ya Cing, bukan 10-20 pot, hehe). Karena pasar bunga dan tanaman hias sangat kompetitif, bisa jadi di negara A ngasih harga sekian, di negara lain, diberi harga 3-5 kali nya. Pa Hadi bercerita cukup lucu dan di luar imajinasi saya. Suatu waktu beliau transit di Dubai, dari perjalanannya setelah pameran di salah satu negara di eropa. Di Airport Dubai, ia menemukan pohon yang sangat mirip yang ia jual, namun kondisinya lebih buruk, tidak sesehat yang ia jual. Harga ketika ia menjual pohon tersebut di pasaran eropa, seharga Rp 5,000 di airport Dubai ini, di mana hotel tertinggi di dunia ada di sana, ternyata harganya cukup beda, hehehe, cukup Rp. 200,000 saja untuk memboyong pohon tersebut, xixixixi….

Kreativitas, keindahan dan konsistensi menjadi ‘SOP’ dalam bisnis penjualan bunga ini. Mau ikutan bisnis ini? Monggo, sukses ya….

Daun dari sejenis ‘cocor bebek’ yang akan dijual di pasar Korea. Kalau modelnya seperti ini, hmmm, pasti targetnya para ABG Korea (sotoy :D)

Advertisements

Discussion

One thought on “Bunga dan Tanaman Hias

  1. wah lucu lucu banget

    Posted by grosir baju bali murah | March 4, 2013, 3:17 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

%d bloggers like this: