Basic Engineering, Engineering, Instrumentation, Metallurgy and Material

Nano Micro Manufacturing/Fabrication

Santai2, kita coba buat bahasan ini mudah, hehe…. jangan berkerut lah bacanya.

Secara umum, maksud judul di atas adalah: membuat material/part dengan ukuran mikro (1/sejuta kali 1 meter) dan nano (1/sejuta kali 1 mm) :D. See? ngerti kan, hehehe. Nah, teman-teman mungkin bingung, sebeneranya gimana sih proses pembuatan material dengan ukuran kecil yang saat ini ada di sekitar kita. eh, di sekitar kita? yap, hampir semua manusia pemegang Laptop, TV layar datar, Smart phone, agak2 smart phone, bahkan jam tangan yang simpel pun juga sangat memaknai kalimat judul di atas ini. Sebelum kita masuk bagaimana cara buat material berukuran kecil, mari kita bercerita yang sedikit ilustasi ya 😉

Rumah kita dibangun dari sebuah susunan batu bata yang berukuran relativ jauh lebih kecil dari ukuran rumah. Makin besar rumah yang diingini, makin banyak batu bata yang dibutuhkan, tapi ukuran batu bata tersebut sama, ya nggak? rumah tingkat dua pun tetap dibangun dengan ukuran batu bata yang sama. Ilustrasi lain adalah proses ngulek sambel, hehehe (bisa diomelin nih sama temen2 yang maen di nano micro fabrication kalau aye pake istilah ini, sedih banget istilahnya, hahaha). Ketika kita mengulek sambel, apa yang diharapkan? Mungkin banyak yang tidak menyadari, proses membuat sambel adalah proses crushing, proses mengahancurkan cabe, lada, bawang merah, bawang putih (apa lagi ya? :D), garam dlsb, tujuannya apa? dengan membuat bahan-bahan tersebut berukuran lebih kecil, maka luas permukaan tiap2 bumbu tersebut akan lebih besar (ukuran kecil, berarti luas permukaan lebih besar, ngitungnya secara keseluruhan ya). Dengan luas permukaan yang lebih luas, maka akan lebih mudah untuk bercampur bumbu2 tersebut. Nah, karena luas permukaan yang lebih besar, maka di lidah jadinya lebih terasa mantap, karena bagian2 lidah yang sensitif dengan rasa, akan menikmati banyak rasa dalam satu kali kecap :D. Gak percaya dengan ilustrasi ini? coba aja makan sambel yang belum diulek, masukin ke mulut barengan, pasti rasanya gak enak, wuek! hehehehe…

Nah, sekarang kita kembali serius ya 😀

Istilah terkenal yang dipakai untuk untuk membangun rumah dengan batu bata, biasa disebut sebagai metode ‘bottom up‘, alias menyusun/membuat suatu material dengan ukuran tertentu, dengan bahan baku yang ukurannya jauuuh lebih kecil. Nah, kalau dengan konsep seperti itu, maka bisa kita bilang, kalau kita mau bikin sesuatu yang berukuran micro atau bahkan nano, maka ‘batu bata’ penyusunnya harus lebih kecil lagi. Umumnya, teknik bottom up ini, kita bisa lihat di sekitar kita, di mana? di tumbuhan, warna (pigmen) dari kulit hewan, warna sayap burung dlsb. Ada istilah lain yang biasa disebut sebagai metode ‘self assembly‘, sebuah proses yang secara alami terjadi begitu saja.

Tanda strip (skala) di gambar di atas berukuran 100 mikron (sepersepuluh milimeter). Ada yang bisa motong tempe dengan ukuran dan spesifikasi seperti gambar di atas dengan pisau dapur? 😀

Nah untuk teknik uleg sambel itu, membuat sesuatu menjadi lebih halus, biasa disebut sebagai teknik ‘top down’ proses, di mana material dengan ukuran tertentu, digerus atau dipotong agar bisa berukuran relativ jauh lebih kecil. Wait a minute, saya menyebutkan dipotong? trus bagaimana kalau nanti ukurannya sudah sampai ukuran mikro? motongnya pake apa? hehe… Oke, sebelum kita berjalan lebih jauh, satu term yang harus kita sepakati: memotong itu harus dilakukan dengan mata pisau yang lebih kecil daripada yang dipotong, ya nggak? kaya motong ketimun, kan ukuran ketimun jauh lebih besar daripada ukuran ‘mata pisau‘, ya kan? :D. Sama seperti di metode top down ini, sesuatu yang mau dibuat lebih kecil, maka ‘mata pisau’nya harus jauh lebih kecil. Contoh ‘pisau’ di teknik bottom up: Sinar UltraViolet (tebal mata pisau sekitar 365nm), Sinar X (X-ray, tebal mata pisaunya sekitar bilangan Angstrom), micro machining (bahasa kita mesin bubut, tapi mata bubutnya bisa berukuran 100 micron) dlsb. Masa sinar bisa ‘motong’??? trus kalau kita kena sinar ultra violet nya matahari, berarti kita bisa mati terpotong2 dong? :D, tenang2, jangan takut, sebagaimana tergantung ‘jenis pisau’ kemampuan potongnya hanya kepada material-material tertentu yang ‘gak kuat’ (sensitive) sama sinar UV tersebut, contoh material misalnya: photoresist (material yang sensitiv terhadap cahaya/sinar).

Sampai sini dulu deh dongeng tentang ‘top down’ dan ‘bottom up’ method ya. Tulisan berikutnya, saya akan coba membahas lebih mendalam tentang teknik top down, yang umumnya dipakai untuk membuat barang2 elektronik, barang2 yang di jualan pake embel2 nano (nano tooth paste lah, nano detergen, nano-nano, hehe).

*Mata pisau di sinar UV/X, memiliki nama ilmiah: panjang gelombang, pake lambang: lamda.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Advertisements
%d bloggers like this: