Artikel Bebas, Islam, My Thoughts

Rajin solat tapi bandel; Perangainya baik tapi gak solat… gimana dong? :)

Tepat seminggu lalu, Abang Ipar saya, yang juga caleg dari partai X untuk daerah pemilihan DKI (upss…, kkk, hampir kena kampanye terselubung :p), memberikan sebuah buku yang cukup ‘tua’. Tua bukan karena lamanya itu buku, tapi judulnya yang sedikit agak bikin dahi berkerut, judul buku tersebut: “Ayah…”, sebuah tulisan tentang kehidupan sehari-hari dari Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang ditulis oleh putra kandung beliau, Irfan HAMKA.

Secara isi, sejujurnya isinya tidak seberat yang saya kira. Proporsi cerita tentang sang Ayah dan kehidupan penulis bahkan terkesan 50:50, tidak melulu, mendetail dan runut tentang siapa tokoh Ayah dalam buku ini. Mungkin, sang penulis mencoba untuk menggambarkan dirinya sebagai impak dari kreasi, tempaan dan didikan sang Buya. Kisah yang diceritakanpun beragam, dari keseharian di keluarga, kehidupan sosial masyarakat, ataupun insiden-insiden spesial yang mungkin tak banyak orang tahu pernah terjadi pada sosok Buya Hamka, misalnya, siapa yang tahu kalau ternyata Buya HAMKA jago silat? hehe…CAM00091

Dalam salah satu lembaran, saya sangat terkesima dengan cerita yang disampaikan di buku tersebut. Syahdan, pada era 70-80an, Buya HAMKA menjadi salah seorang tokoh Islam yang tersohor, dan seperti para ulama-ulama besar lainnya, sering dimintai tanggapan atas masalah ataupun sebuah kondisi yang terjadi di masyarakat. Dalam sebuah diskusi sore di Mesjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, ada seorang penanya, yang pertanyaan sangat menggelitik, seperti judul postingan ini. Ceritanya, penanya ini menyampaikan: “Saya memiliki dua orang tetangga. Satu orang Haji, yang sangat rajin solat, tapi tidak memiliki akhlak yang baik kepada para tetangganya. Satu lagi, seorang dokter, yang selalu siap sedia menolong tetangga, tapi tidak pernah solat. Bagaimana pendapat Buya?”

Dang!

Bagaimana jawaban Buya? Menurut saya, jawaban Buya HAMKA sangat halus dan baik sekali, sangat bijak, dan ngena! Beliau menjawab seperti ini (saya co-pas persis sama seperti di buku, biar gak salah ucap ya, hehe):

“Kita sepakati dulu, bahwa sholat merupakan tiang agama. Sedangkan kebaikan yang lain, sebagai pengikutnya. Kalimat, ‘Pa Haji taat shalat’, kata ‘tapi’-nya kita hilangkan dulu. Kalimatnya menjadi: ‘Pa Haji taat beribadah (koma bukan titik)’. Sambungnya, ‘kebaikan yang lain belum diikuti oleh Pa Haji’. Lalu untuk ikutnya kebaikan yang lain, ini peran da’wah bilhal, yaitu dakwah dengan cara memberi teladan, perbuatan atau sikap. Memberi contoh yang baik ke Pa Haji. Prosesnya bisa lama bisa pula sebentar. Mengubah perangai seseorang mudah-mudah sulit. Namun kebiasaan rajinnya Pak Haji beribadah jangan diejek.”

“Begitu pula halnya dengan si dokter. Kebalikan dari perilaku Pa Haji, si dokter jangan diejek karena dia tidak shalat. Kata-kata ‘tidak shalat’, juga diganti dengan kata-kata ‘belum shalat’. Hal ini pun harus diselesaikan dengan da’wah bilhal, dengan cara yang lemah lembut. Yang penting si dokter tetap beragama Islam. Hanya belum shalat. Saudara pun berkewajiban melakukan da’wah bilhal kepada kedua tetangga itu.”

——

Jawabannya asik ya?! bijak banget… Gak ada tendensi menghakimi, malah mengajak introspeksi mengapa kita gak ikut memperbaiki. Jawabannya juga menepis ‘kebiasaan’ kita yang ibarat “kemarau tahunan, dihapus oleh hujan sehari”, alias, kebaikan yang banyak dilakukan tapi seperti langsung hilang ketika seseorang melakukan kesalahan. Tidak jarang kita sering mendengar, ketika ada orang baik melakukan kesalahan, bahkan sedikit kesalahan saja, kata “aaaaahhh, itu orang munafik…“, sering terlontar (padahal menyematkan kata munafik itu artinya dalaaaam banget looh…). Atau kalimat: “liat tuuuh, Ustadz aja ngelakuin itu….“, seperti dan seakan, kesalahan sang Ustadz menjadi noda hitam dan negasi dari keseluruhan kebaikan-kebaikan yang pernah disampaikan oleh sang Ustadz,

Bahwa sedarinya, tiap orang (kecuali Al-Maksum), memiliki potensi dan melakukan kesalahan, siapapun! Gak ada yang sempurna… Kelancangan mulut kita untuk menjastifikasi seseorang adalah ‘orang  gak bener‘, atau ‘dia walau baik TAPI begini begitu…“, sebenarnya adalah cacat yang kita miliki. Belajar dari jawaban Buya HAMKA, harusnya kita sadar, apabila ada kekurangan di diri orang lain, dakwah bilhal adalah yang utama, bukan malah membicarakan kekurangan yang BELUM dimiliki oleh orang tersebut…

Lagian siapa sih kita, sampe berani-beraninya memvonis kekurangan orang lain? heh?!

Advertisements

Discussion

4 thoughts on “Rajin solat tapi bandel; Perangainya baik tapi gak solat… gimana dong? :)

  1. mantap boy

    Posted by Yuli Amalia Husnil | October 1, 2013, 10:01 am
  2. wah coba media sekarang yg rohani aja kadang main hakim, pendidikan jaman sekarang mungkin beda kali ye

    Posted by Kiekie21 | October 1, 2013, 3:08 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Advertisements
%d bloggers like this: