Artikel Bebas, Indonesia, Organisasi dan Kepemimpinan, Sosial & Politik

Mahasiswa, kenapa harus turun ke jalan?!

Meme sindiran kepada mahasiswa cukup banyak beredar di sosial media beberapa hari terakhir ini. Kenaikan beras, harga BBM yang sempat naik, harga beras di pasaran yang melonjak, turunnya nilai rupiah secara signifikan terhadap dollar AS paling tidak membawa pesan yang mudah ditangkap oleh sebagian masyarakat umumnya: tumben, mahasiswa Indonesia diam saja. Sebagai mahasiswa senior yang belum lulus kuliah, saya mencoba mengingat kembali kisaran 1 dekade yang lalu, di mana banyak audiensi, rangkaian aksi dan demonstrasi saya ikuti. Tulisan ini mungkin hanyalah untuk saya bernostalgia belaka, namun siapa tahu ada pewarisan nilai dan semangat yang bisa tersampaikan kepada adik-adik ku yang saat ini berada di kampus/Universitas (yang bukan lagi pakai istilah ‘sekolah/SMA-SMP-SD’).

Mengingat kembali kenapa saya dulu ikut aksi, paling tidak, saat itu saya merasa ada tiga alasan utama, kenapa Mahasiswa harus turun ke jalan, di antaranya:

  1. Terjadinya ‘situasi sosial-politik sekongkol’, yang akhirnya membutuhkan figur alternatif dalam mengatakan mana yang hitam, mana yang putih. Bisa dibayangkan hidup bernegara di mana ketika Pemerintah melakukan sebuah kebijakan yang tidak tepat, namun tidak ada lembaga negara yang bersuara lantang terhadap kebijakan tersebut? Gila kan?! Tahun 2006-2007, waktu Adik-adik sedang di bangku SD atau SMP, para mahasiswa turun ke jalan untuk memprotes PP No 37/2006, yang berisi kenaikan gaji anggota DPRD dan juga rapelan kenaikan terhitung beberapa bulan sebelumnya. Bahkan yang membuat miris, alokasi anggaran kenaikan gaji anggota DPRD di banyak tempat timpang dengan anggaran prioritas lainnya (sila buka sala satu arsip http://tempo.co/s/191146 ). Dengan kondisi tersebut, siapa yang diharapkan untuk memprotes? DPR yang merupakan balancing power? Tidak mungkin, karena teman-teman mereka se-Indonesia bisa ngamuk. MA, Kepolisian, Kejaksaan? Tidak nyambung urusannya. Pers? Sebagaian berteriak, sebagaian lain bungkam, tinggal lihat saja siapa di belakang layar mereka. Mengharapkan para buruh, petani, nelayan, ibu rumah tangga, manula, tukang ojek berteriak dan turun ke jalan karena alokasi APBD mereka terganggu? Tega banget kalau sampai harus menunggu mereka. Saat PP tersebut disahkan, Mahasiswa dan beragam elemen masyarakat (LSM, berbagai organisasi, dlsb) berteriak, turun ke jalan. Alhamdulillah, aksi beragam kegiatan tersebut sukses membuat Pemerintah saat itu terusik, PP tersebut dicabut!
  2. Aksi turun ke jalan adalah salah satu ungkapan emosi dan keprihatinan atas kondisi yang terjadi. Emosi dan sense of crisis bisa didapatkan dari pemahaman dan kejelian melihat masalah. Sehingga ketika turun ke jalan, poster yang dipegang, brosur yang disebar, gesture yang terlihat, terpancar dari raut muka penuh kegeraman yang memuncak. Ketika bertemu dengan masyarakat, cukuplah pancaran itu semua menjadi ‘panggung’ yang menjelaskan bahwa ada sesuatu yang tidak pas sedang terjadi, sehingga mengajak masyarakat untuk memahami bahwa aksi yang dilakukan memiliki alasan yang kuat yang mendasari. Aksi yang simpatik, kuat dan inklusif!
  3. Aksi turun ke jalan adalah media real yang dapat memantik emosi banyak orang, membuka mata dan kesadaran akan apa yang sedang terjadi namun tertutup oleh berita yang lain, menyuarakan suara rakyat yang bervolume rendah karena tak punya ‘titel’ untuk berbicara dan yang paling utama: menyadarkan kepada pihak yang bertanggung jawab bahwa ada elemen di masyarakat yang bisa lantang dalam berbicara dan mengkritisi kebijakan yang gak bener. Dengan status MAHA yang disandang, para ‘siswa universitas’ memikul harapan untuk bersuara karena dianggap netral, intelek dan bersih dari peran politik praktis. Karenanya saat itu saya merasa, selain dari orang tua dan keluarga, ada amanah orang banyak di status: mahasiswa!

Dari paparan ‘nostalgia’ di atas, tak elok kalau penulis harus memaksakan, menyindir atau mengkomparasi kondisi mahasiswa hari ini dengan satu dasawarsa lalu yang penulis alami karena banyak hal yang telah berubah. Masyarakat dan mahasiswa hari ini adalah mahasiswa serba digital, serba high-tech dan instant (pragmatis?). Namun satu hal yang menurut penulis haruslah tetap selalu ada di jiwa pemuda: Pemuda tidak boleh diam yang malahan bisa menjadi beban, namun harus aktif bergerak dan berani mengatakan mana hitam, mana putih!

Lagi-lagi tentang pilihan turun ke jalan, ini semua berpulang kepada keputusan para adik-adik yang sudah dewasa. Beraksi, atau cukup berdiam diri saja di sudut kantin sambil tertawa, menertawakan dan ditertawakan zaman, itu pilihan kalian. Tak ada yang memaksa…

Salam hangat,

Boy,

Mahasiswa S3 di Korea, Ka. BEMFTUI 06/07

Advertisements

Discussion

8 thoughts on “Mahasiswa, kenapa harus turun ke jalan?!

  1. This. I like this.

    Posted by Nasikun | March 17, 2015, 10:46 am
    • Mahasiswa di Korea juga ditantang ‘turun ke jalan’ nih Mas Nasikun… 🙂

      Posted by Andy Tirta (boy) | March 17, 2015, 11:11 am
      • Kita perlu redefine ‘jalan’-nya ndak nih Bang Boy? Definisi yang tepat bagi yang jauh kayak kita gini apa yak?

        Posted by Nasikun | March 18, 2015, 1:48 pm
      • Tentu Mas Nasikun…

        ‘jalan’ yang ditempuh bisa sangat beragam, dari mulai diskusi kebangsaan yang memberikan rekomendasi solusi, atau bahkan yang paling minimal: pernyataan sikap dari kondisi yang ada. 🙂

        Posted by Andy Tirta (boy) | March 18, 2015, 2:18 pm
      • sepakat sekali Bang Boy.
        Keren dah bisa belajar dari orang dahsyat kayak Bang Boy ini… #flirting

        Posted by Nasikun | March 21, 2015, 1:53 am
  2. Kapan bisa dimulai… semua kalangan bersatu mealawan kezaliman terhadap Rakyat…
    “Keburukan itu terus terjadi bukan karena sedikitnya orang pintar, tetapi banyaknya orang pintar namun hanya diam”.

    Posted by esa kurnia | March 17, 2015, 11:22 am
  3. Mantap bang.. izin share..

    Posted by ihsanugraha | March 18, 2015, 4:41 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

%d bloggers like this: