Artikel Bebas, Indonesia, My Thoughts, Organisasi dan Kepemimpinan, Sosial & Politik

Lagi-lagi, tentang demonstrasi turun ke jalan

Dalam salah satu serial buku ‘Gajah Mada’ karangan Langit Kresna Hadi, saya baru mengetahui bahwa ternyata di zaman kerajaan dahulu, terutama saat Majapahit berkuasa, demonstrasi sudah dilakukan oleh rakyat kepada penguasa. Mereka tidak memakai istilah demonstrasi yang merupakan serapan asing, tapi menggunakan istilah pepe. Pepe dilakukan oleh masyarakat dengan cara menjemur tubuh tanpa baju, di tengah hari yang terik. Tradisi ini menunjukan kondisi pasrah, keputus asaan ataupun bentuk protes terhadap kondisi di masyarakat ataupun kebijakan dari Penguasa yang dianggap menyengsarakan rakyat. Penguasa saat itu bisa bertindak dua hal: mengajak para pengunjuk rasa untuk duduk bersama membicarakan harapannya, atau bisa jadi hal yang lain: berangus saja yang melakukan pepe.

Hari ini, di era demokrasi, kesempatan melakukan ‘pepe’ dijaminkan oleh Undang-undang yang kurang lebih kalau disarikan: setiap warga negara berhak berkumpul dan menyampaikan pendapat. Tentu, ada aturan main juga untuk menjalankan prosedur demo, salah satu yang paling umum di tiap negara: melaporkan aktivitas kepada pihak yang berwajib sebelumnya (rentang waktu bervariasi, kalau di Korea misalnya 2×24 jam).

Dalam tulisan ini, penulis berusaha menjawab salah satu pertanyaan paling muncul keluar bagi orang-orang yang tidak mendukung cara demonstrasi. Pertanyaannya kurang lebih: “Memangnya kalau demo/turun ke jalan, kebijakan/situasinya akan berubah?”. Atau juga statement yang biasa menyatakan: “mending belajar, kerjakan hal lain yang bermanfaat, yang konkret untuk masyarakat…”

Untuk menjawab dari pertanyaan dan pernyataan di atas, sebelumnya saya coba buat beberapa analogi, sbb:

1. Memangnya kalau sebuah stasiun TV mengundang ahli-ahli ekonomi berbicara tentang kondisi perekonomian Indonesia, rupiah langsung turun? harga2 juga pada turun?

2. Ketika terjadi peperangan antara Israel dan Libanon tahun 2006 yang mengakibatkan ribuan orang menderita, SekJend PBB mengecam terjadinya peperangan tersebut, dan meminta kedua belah pihak menahan diri,,, memangnya waktu itu kedua negara tersebut langsung berhenti melakukan serangan bersenjata?

3. Ketika terjadi penembakan remaja kulit hitam di US yang berbau rasial, lalu terjadi demonstrasi besar-besaran di beberapa negara bagian, memangnya kasus yang sama tidak terjadi lagi? ternyata jawabannya, tetap terjadi beberapa kasus malahan dalam waktu yang tidak berjauhan.

<> on December 8, 2014 in New York City.

Warga Amerika melakukan ‘pepe‘, atas terbunuhnya beberapa warga kulit hitam oleh oknum polisi.

4. kondisi ekstrim lainnya… Seorang wanita di India diperkosa beramai2 di dalam sebuah bis, terjadi demonstrasi di banyak tempat lalu apakah kejadian tersebut menghentikan terjadinya kasus pemerkosaan di India? nope!

Sudah dapat poinnya?

kalau belum, saya coba elaborasi… membenturkan demonstrasi dengan solusi instant tidak menjamin apa yang dimintakan berhasil, sama seperti analogi2 yang saya sampaikan di atas. Namun coba dilihat dari sisi lain, yaitu demonstrasi adalah hak dari setiap warga yang dijamin oleh undang-undang yang bisa menjadi ungkapan kekecewaan, emosi, dan juga warning kepada pihak yang berwajib untuk lebih serius menanggapi isu yang disampaikan. Demonstrasi bisa juga menjadi media edukasi kepada banyak orang atas apa yang sedang terjadi… bahkan bisa menjadi rekonsiliasi nasional atas sebuah isu (contoh kasus di India yang mengangkat ‘real man dont rape’ dan di US dengan ‘I cant breath’). Dan bisa jadi, demonstrasi adalah salah satu tools, dari sekian banyak cara yang bisa diusahakan untuk mencapai sebuah harapan….

Keberadaan ‘oposisi’ alias orang yang mengkritisi kepemimpinan/Pemerintahan termasuk di dalamnya melalui demonstrasi, haruslah juga ditanggapi positiv. Kenapa begitu? Keberadaan mereka memberikan signal kepada Pemimpin bahwa pekerjaan mereka diawasi oleh stakeholder mereka; sehingga kebijakan mereka harus tepat sasaran dan kuat alasan… Beberapa kali ikutan dan mimpin organisasi, saya merasakan ‘indah’nya keberadaan oposisi. Merekalah orang2 yang dengan teliti menyimak kepemimpinan kita, mendetailkan kekurang2an kita (sehingga bisa diperbaiki)… So, untuk pemimpin atau pendukungnya, gak usah risih lah klo ada demonstrasi… berfikir positif aja

Nah, membenturkan lagi dengan kalimat: udah mahasiswa belajar aja yang bener, buat hal yang konkret di masyarakat, gak usah ikutan demo… ini menurut saya kurang pas juga. Karena tidak sedikit juga saya lihat, yang aktif demo2 ternyata memiliki kontribusi besar di kegiatan lain yang bermanfaat untuk masyarakat, menang lomba, indeks prestasi (jika dijadikan sbg parameter) bagus2 juga. Mengeliminir demo sebagai bagian dari ‘aktualisasi diri’/menyalurkan emosi seseorang-kelompok, memangnya siapa kita? toh yang tidak melakukan demo juga kadang melakukan hal lain sebagai bentuk aktualiasi dirinya: main dan nonton basket, fotografi, nonton film ke bioskop, jalan2 keluar kota sambil touring bawa kendaraan,,, apa kepada mereka kita mau bilang juga: udah jangan nonton ke bioskop, mahasiswa belajar aja yang bener… kurang lebih begitu.

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

%d bloggers like this: