Artikel Bebas

Dear Pa Jokowi, please jangan nanggung…

Walau saya tidak memilih Bapak pada saat PEMILU kemarin, tapi saya ingin tetap menjadi bagian pendukung dari perbaikan bangsa dan Negara ini. Saya yakin, saya tidak sendirian, ada banyak orang di luar sana yang tidak memilih Bapak, namun tetap berdoa dan berharap besar bahwa di tangan Bapak, Indonesia bisa menjadi jauh lebih baik dari waktu ke waktu. Urusan persaingan PILPRES di tahun lalu, menurut saya istilahnya the game is over lah, Bapak adalah Pemimpin yang sah secara konstitusi, dan mengantongi legitimasi 53an% penduduk Indonesia. So, kalau Bapak membaca tulisan saya ini, ataupun fanboy dan hater juga ikut baca, mohon dibaca dengan prasangka baik. Jadikan layaknya surat dari seorang anak kepada bapaknya, hilangkan stigma dan tendesi apa-apa dari siapa yang menulis.

Bapak Presiden Joko Widodo, please jangan nanggung…

Pidato Bapak pada pelantikan Presiden RI ke-7 sangatlah apik. Membangkitkan nasionalisme, kepercayaan diri sebagai bangsa, dan tentunya harapan untuk seluruh rakyat Indonesia, di manapun berada. Nawa Cita yang Bapak gaungkan juga keren, seperti misalnya butir ke 5: “Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019”. Iki keren loh Pa. Ditambah lagi istilah Revolusi Mental yang Bapak dengungkan, itu ajib Pa, karena ada kata revolusi disana, jantan dan laki banget. Saya sangat mendukung.

335791_620_tempoco

Foto Bapak ketika memekik kata “merdeka!” saat dilantik di Gedung MPR

Pa Joko Widodo yang saya hormati, mungkin Bapak ataupun pembaca sekarang menunggu hit dari tulisan saya, tentang apa yang saya maksud nanggung di sini. Sekali lagi, mohon berprasangka baik…

Begini loh Pa maksud saya tentang jangan nanggung. Jangan nanggung untuk jor-joran di kebijakan dan visi misi Bapak kedepannya. Waktu Bapak menaikan harga bensin misalnya, Mertua saya yang mengurus bisnis jemputan buat anak-anak TK, sudah ‘menyesuaikan’ ongkos perbulan untuk para penumpangnya, gaji supir pun juga naik. Ketika Bapak turunkan lagi harga bensin, naikan lagi, ternyata itu bikin ribet Pa. Kami yang gak ngerti hitung-hitungan kenapa bensin harus naik, itu sudah dijejali banyak alasan yang (dibuat?) logis, kenapa harga bensin harus naik. Di mana yang kami dengar katanya: demi pembangunan infrastruktur, dialihkan untuk subsidi pupuk, membagi insentif kepada peternak, memberikan tambahan modal untuk BUMN. Kami ngangguk tanda setuju, walau kami tidak mengerti. Kalau memang itu yang terbaik, yasudah, gak apa-apa, kami rela (tidak sedikit terasa terpaksa) ikutan dalam kebijakan tersebut. Tapi ketika Bapak turunkan lagi harga bensin, ternyata Mertua saya jadi bingung lagi Pa untuk menurunkan gaji supir yang kadung naik di mana tentunya para penumpang mobil jemputan tersebut tentu minta turun ongkos perbulan karena sebelumnya alasan yang disampaikan karena harga bensin naik. Ternyata cerita pendek ini terjadi di banyak dan lain kasus Pa.

CoverMinyak10_0

‘10 Alasan harga BBM harus naik’, kata si Katadata.co.id[i]

Ketika kami mau mengangguk lagi tanda setuju dengan turunnya harga bensin, kami jadi ingat lagi alasan kenapa kemarin BBM kemarin naik, untuk ini itu, yang dirasa lebih penting daripada bisnis recehan kami. Ada usulan dari dari diskusi kami Pa Jokowi, tak usah diturunkan lagi lah Pa kalau sudah dinaikkan, kami nitip saja uang kelebihan beli minyak impor itu, jadi kalau nanti harga minyak dunia tiba-tiba naik, keluarkan tabungan kami untuk mengatrol harga yang melambung biar nanti naiknya tidak terlalu banyak. Uang tabungan itu bahkan boleh Bapak putar untuk investasi jangka pendek, gimana caranya? Coba tanya dengan para financial planner yang ada di twitter itu Pa, karena isi kicauan mereka terlihat pintar-pintar.

Nah Pa, lanjut lagi, please jangan nanggung Pa Jokowi.

Saat Bapak memperkenalkan para Mentri dan semuanya memakai baju warna putih-putih bersih, itu awesome loh Pa. Saya senang melihatnya. Saya fikir harga baju putih itu lebih murah daripada harga jas untuk kawinan yang dibelikan oleh sahabat-sahabat saya, yang padahal sekarang ini jas tersebut sudah tak muat lagi saya pakai. Ketika Mentri Bapak menginisiasi panganan lokal untuk menu PNS[ii], mohon maaf teman-teman saya yang PNS, itu ide cemerlang loh! Ketika Bu Susi bikin takut kapal pencuri ikan dengan meledakkannya, itu juga asik! Adegan yang saya suka juga, ketika Menaker manjat pagar masuk ke penampungan CTKI yang dikelola tidak layak[iii], heroik! Ada lagi yang tidak kalah keren, perubahan nama-nama kementrian yang juga garang-garang, I love it… Tapi Pa, itu semua belum cukup, the show still goes on….

jelang-pelantikan-kabinet-rupiah-bisa-melemah

Kabinet Kerja dengan seragam putih hitam

Hari ini saya baca  tentang keputusan Bapak yaitu Perpres Nomor 39/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 68/2010 tentang Pemberian Fasilitas Uang Muka Bagi Pejabat Negara Untuk Pembelian Kendaraan Perorangan, di mana kenaikan tersebut berlaku untuk anggota DPR, anggota DPD; hakim agung MA; hakim MK; anggota BPK; dan anggota KY. Pa Jokowi, gimana coba perasaan kami yang kemarin Bapak naikkan-turunkan harga bensin dan menyebabkan harga dan biaya jadi naik, tapi tidak diikuti turun ketika harga bensin turun? Dengan segala kesederhanaan baju putih yang Bapak dan mentri-mentri pakai, serta tentunya imaji yang sama tersematkan pada para pejabat negara, namun kalau kesehariannya mempertontonkan mobil/fasilitas mewah dari negara, itu sama seperti makan di warteg tapi menu yang dipesan adalah sirloin steak setengah matang yang diimpor dari Australia. Terlihat sederhana dari luar, tapi ngapusi.

Kalau Bapak ingin mengajarkan kesederhanaan, maka revolusi mental haruslah dilakukan di lingkungan terdekat dan paling dalam dari istana. Gak usah nanggung, kasih kendaraan tiap mentri mobil sekelas k*jang Pa! Kalau dulu Bapak tulus dan serius endorse ESEMKA atau mobil-mobil listrik yang berusaha dibuat oleh beberapa putra bangsa kemarin, ini waktu yang sangat tepat untuk menjadikan mobil-mobil produksi mereka dipakai oleh Tim Bapak. Rakyat akan tersenyum Pa, jadi ngeh bahwa ketika harga bensin dinaikkan, Pejabat yang di atas juga merasakan perihnya ‘revolusi’ demi masa depan yang lebih baik. Mental subsidi diganti dengan mental kemandirian dan kesederhanaan. Jangan nanggung! Kalau rakyat disuruh tahu diri untuk tidak terbuai dengan subsidi, izinkanlah kami untuk mengingatkan, bahwa pemberian kemewahan kepada Pejabat Negara adalah bentuk pemberian buaian subsidi juga, namun kenapa logika yang sama diberikan kepada rakyat tidak dilakukan di lingkungan terdekat?!

Ketika kita berteriak dan mensyaratkan produk-produk dengan merk LN yang berproduksi di Indonesia mengandung puluhan sekian persen adalah berbahan lokal[iv], pertanyaan yang sama juga harus ditanyakan di Pemerintahan, terutama kepada para Mentri-Kementrian yang Bapak pimpin saat ini dan lembaga-lembaga negara yang mereka mendapatkan kas dari APBN (APBN: uang rakyat bersama, yang besaran angkanya di tangan Bapak dan disetujui oleh DPR): 1. Berapa persen perlengkapan dinas mereka dari ujung kaki sampai ujung rambut, kendaraan, perlengkapan rumah atau alat komunikasi, makanan yang disajikan ketika ada jamuan/pertemuan dll, mengutamakan produk lokal daripada produk impor? 2. Dengan sense yang sama tentang penghematan, sudah sejauh mana usaha efisiensi pembiayaan negara? 3. Berapa triliun kebocoran anggaran yang nyaris diselewengkan terselamatkan –belajar dari kasus ‘Ahok vs DPRD’? 4. Berapa banyak perjalanan dinas yang diefisienkan dari sisi jumlah orang yang ikut perjalanan, durasi hari, hotel yang dipilih, frekuensi bepergian, teknologi online yang digunakan –belajar dari efisiensi perjalanan dinas yang pernah diterapkan Dahlan Iskan di PLN&BUMN[v]?  5. Atau missal yang paling sederhana, berapa banyak pengurangan penggunaan kertas untuk di-print namun tak terpakai[vi] –belajar dari salah satu parameter target efisiensi yang pernah saya lihat di salah satu kampus di LN? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Ketika revolusi yang digaungkan memang sungguh-sungguh, tidak nanggung, saya yakin, rakyat bisa lebih greget dalam kebersamaan membangun dan mendukung Pemerintah dan kebijakan-kebijakan yang ada.

Pa Jokowi yang kami hormati. Kalau Bapak setuju ‘jangan nanggung’ adalah hal yang dirasa penting, maka berfikir matang-matang untuk menelurkan kebijakan adalah keniscayaan. Kalau memang sudah berfikir secara dalam maka jangan plin-plan dan ditarik lagi, karena setiap kebijakan tentu ada pro dan kontra asalkan norma hukum (konstitusi) tidak dilanggar, itu saja kan? Jangan melempar sebuah kebijakan, lalu menunggu reaksi dari masyarakat yang mendukung/menolak, lalu mengikuti apa kata pasar. Jangan coba-coba Pa, dibikin serius saja lah, karena setau saya kebijakan Pemerintah bukanlah lab scale, tapi sudah tahap aplikasi. Karena ketika kebijakan negara ini bersifat experimental, saya khawatir hal ini malah akan membuat masyarakat jadi pupus kepercayaan terhadap kepemimpinan Bapak, tidak yakin bahwa apa yang Pemerintahan Bapak lakukan adalah final decision atau sekedar test the water.

Oke Pa, itu sudah tulisan saya karena sudah kemalaman dan besok pagi harus ngampus. Saya tahu Bapak dan Tim baru sekian bulan menjabat, walau itu menurut saya tidak pantas dijadikan alasan. Semoga sisi kurang yang saya liat dan sampaikan bisa diperbaiki di case yang lain, diobati dengan prestasi-prestasi yang lain, dan Bapak bisa menyelesaikan amanah yang di periode ini tinggal 4 tahunan lagi dengan banyak kesuksesan berlimpah ruah. Semoga citra baik Bapak ketika menjadi Walikota dan Gubernur DKI tidak pudar, stay humble and sincere.

Wassalam,

Andy, mahasiswa tahap skripsi di Korea.

[i] http://katadata.co.id/infografik/2014/11/13/10-alasan-kenapa-harga-bbm-harus-naik

[ii] Kebijakan Hidup Sederhana di Era Jokowi. http://nasional.kompas.com/read/2014/12 /02/06000081/Kebijakan.Hidup.Sederhana.di.Era.Jokowi

[iii] Sidak ke Penampungan TKW, Menaker Hanif Dhakiri Panjat Pagar. http://news.liputan6.com/ read/2129677/ sidak-ke-penampungan-tkw-menaker-hanif-dhakiri-panjat-pagar

[iv] PerMen Perindustrian Republik Indonesia, no: 54/M-IND/PER/2012.

[v] http://www.antaranews.com/berita/308765/dahlan-pangkas-perjalanan-dinas-kementerian-bumn

[vi] Paper reduction Program pada University of Washington, sebagai tindak lanjut dari peraturan Washington (state) yang menargetkan penurunan penggunaan kertas hingga 30% di tahun berikutnya, dan juga daur ulang sebesar 100% kertas yang tidak digunakan. https://green.uw.edu/dashboard/paper

Advertisements

Discussion

8 thoughts on “Dear Pa Jokowi, please jangan nanggung…

  1. Suka dengan kalimat terakhirnya.

    “ketika kebijakan negara ini bersifat experimental, saya khawatir hal ini malah akan membuat masyarakat jadi pupus kepercayaan terhadap kepemimpinan Bapak, tidak yakin bahwa apa yang Pemerintahan Bapak lakukan adalah final decision atau sekedar test the water.”

    Posted by Rita Secha | April 6, 2015, 3:45 pm
  2. bagus artikelnya..
    saya memilih jokowi sewaktu pemilu kemarin.
    dalam beberapa bulan masa jabatan ini, memang banyak sekali kekurangan-kekurangan dalam kebijakannya (tanpa meniadakan kebijakan2 yang baik).
    saya agak sangsi dengan keakuratan teori ‘test the water’ yang ramai dibicarakan. tapi yang bisa saya lihat dengan jelas, dibalik presiden dan wakil presiden ini banyak sekali, begitu banyak tampaknya pihak lain yang berusaha memanfaatkan dan mengendalikan pemerintahan untuk kepentingan mereka. dan itu menyebabkan ketidakpastian dalam kebijakan2 pemerintahan.
    sementara sosok jokowi sendiri, menurut saya belum dapat dinilai komitmennya untuk mewujudkan visi misinya. terutama karena kebijakan2 semacam penghilangan subsidi bbm, efeknya tidak bisa dilihat dalam jangka pendek.

    jujur, kepercayaan saya memang berkurang, tetapi harapan saya masih tinggi untuk perubahan indonesia, ke arah yang lebih baik tentunya.
    after all, what do we have other than hope?

    Posted by rakyat indonesia | April 6, 2015, 7:52 pm
    • Saya juga gak meyakini 100℅ pemerintah saat ini melakukan test the water Mas/Mba… tapi memang dari beberapa runutuan pengalaman, ada kesan seperti itu: tim transisi yg mengusulkan dihilangkannya kementrian agama tapi gak jadi… larangan rapat di hotel yang direvisi kembali… dan mungkin perpres terbaru yg bakal direvisi… Btw, imho, ada banyak hal yang masih banyak kita lakukan dari sekedar ngasih harapan menurut saya Mas/Mba, yaitu kontribusi konkret kepada masyarakat, dan tetap kritis dengan kondisi yang ada…

      Posted by Andy Tirta (boy) | April 6, 2015, 7:57 pm
  3. Kita tidak tahu apa yang ada dan terjadi di dalam(istana, kekuasaan,dst). Turunkan telunjukmu dari si Jokowi, telunjukmu tidak akan mengubah apa yang ada di dalam.

    Posted by Langit | April 7, 2015, 2:10 pm
  4. Untuk Dp mobil yg diberikan saya setuju,karena dengan sistem mobil dinas akan sangat membebani pemerintah (pengalaman melihat mobil dinas di perusahaan)..bbm ditanggung pemerintah selama 5 tahun,belum lagi kalo diakalin isi bbm hari jumat untuk liburan sabtu minggu (supaya diklaim),biaya service rutin,pajak selama 5 tahun, dan yg ga bisa diprediksi kerusakan akibat kecelakaan ringan atau berat..belum lagi kalo ada kecelakaan yg menimbulkan korban (kasih santunan)..memang biaya diawal akan terlihat sangat besar,tp setalah itu menjadu tanggunan penuh si pemakai beserta cicilannya,bandingkan dengan mobil dinas dimana pemerintah harus disibukkan dengan klaim bensin setiap hari,service setiap bulan,pajak setiap tahun..cukup menyita uang,waktu,dan tenaga..

    Posted by saut | April 8, 2015, 11:14 pm
    • Halo Mas Saut… terima kasih utk insight-nya.

      Posted by Andy Tirta (boy) | April 8, 2015, 11:34 pm
      • Yapp..kalaupun di awal pemerintah mengeluarkan keputusan pengadaan mobil dinas baru, responnya juga akan sama ko menurut saya..sama2 menolak dgn alasan yg saya sampaikan td terhadap penggunaan mobil dinas..

        Posted by saut | April 9, 2015, 2:36 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

My thoughts in Twitter: @andytirtaboy

%d bloggers like this: